Terkait Penghentian K 2013, Disdik Banyuasin Belum Terima Keputusan Resmi

Ilst. Kurikulum

Ilst. Kurikulum

BANYUASIN – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013. Penghentikan itu diterapkan bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan Kurikulum 2013 selama 1 semester.

Keputusan tersebut memunculkan pro dan kontra hampir diseluruh Indinesia, tak terkecuali di Sumatera Selatan.

Di Kabupaten Banyuasin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin Merki Bakri melalui Sekretaris Dinas Julkarnain belum bisa memastikan program K 2013 akan dilanjutkan atau tidak, sebab pihaknya belum menerima surat resminya dari kementrian.

“Kita baru tahu hanya sebatas di internet. Pengumumannya juga baru hari Jumat kemarin,” ucapnya saat ditemui dikantornya, Senin (8/12).

Namun dirinya menolak jika program tersebut dikatakan dibatalkan. “Kalau menurut saya yang lebih tepanya, ada perubahan,” timpalnya.

Ia menambahkan, ada beberapa poin yang mengalami perubahan, akan tetapi dirinya belum bisa memastikan poin-poin mana saja yang mengalami perubahan tersebut.

“Kami bisa memastikan program itu akan tetap berjalan, khususnya di sekolah-sekolah yang menjadi projek percontohan yaitu di tiga SD, empat SMP dan empat SMU,” tuturnya.

Sementara itu, dikalangan pengajar juga memiliki komentar tentang penghentian Kurikulum 2013.

“Kalau memang ada perubahan kurikulum 2013 memang harapan kami, sebab kami yang sudah tua sudah repot mau menggunakan laptop apalagi siswa kami tidak semua memiliki laptop,” ujar salah seorang guru diwilayah perairan, sebut saja “Umar Bakri” saat diwawancarai, kemarin.

Dikatakan Umar Bakri, untuk saat ini rasanya kurikulum 2013 belum bisa diterapkan akibat keterbatasan serta kemempuan para guru dan murid akibat metode tersebut bercampur baur antara mata pelajaran satu dengan pelajaran lainnya.

“Kami sangat setuju dan rame-rame satu sekolahan mendukung kementerian pendidikan menengah untuk menarik kurikulum 2013 ke kurikulum 2006,” imbuhnya.

Bagaimana sistem penilaiannya kalau laptop saja gak ada, karena tidak semua guru mampu memiliki laptop yang tergolong barang mewah di daerah jalur perairan.

“Dengan fakta ini, rasanya guru-guru lebih setuju kalau kurikulum 2013 ditarik dan diganti kembali ke kurikulum 2006, ” jelasnya.

Sementara itu, Ismail (36) salah seorang wali murid mengaku anak-anaknya masih kebingungan mengikuti kurikulum 2013, alasannya tidak semua wali siswa memiliki Laptop, sedangkan kedua anaknya bisa sekolah saja karena ada program sekolah gratis di Sumsel ini.

Teks    : Diding Karnadi

Editor   : Junaedi Abdillah

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *