Warga Palembang Kaget Tarif Angkot Rp 4.000

Ilustrasi Angkutan Umum | Dok KS

Ilustrasi Angkutan Umum | Dok KS

PALEMBANG – Meskipun besaran kenaikan tarif angkutan umum seperti Angkot dan bus kota sudah ditetapkan Rp 3.500 atau naik 25 persen. Fakta di lapangan masih banyak penumpang yang di tagih Rp 4.000.

Misalnya, Haryadi, warga Perumnas Sako Kenten ini mengaku, ia harus membayar ongkos angkot sebesar Rp 4.000, ketika naik angkot jurusan Ampera-Sako.

“Saya pikir ongkosnya masih Rp 3.000. Jadi aku kasih Rp 5.000, ternyata hanya dikembalikan Rp 1.000,”ungkapnya, saat dibincangi, Rabu (3/12).

Haryadi mengaku, dengan kondisi itu, ia kaget. Karena kenaikan tarif tidak di sosialisasikan dulu atau pemberitahuan sebelumnya. Menurutnya, kenaikan Rp 1.000 itu cukup memberatkan pengguna jasa angkutan umum.

“Kenaikan ini memberatkan, karena pengguna angkot atau bus orang tidak mampu dan mahasiswa. Kami berharap, Pemerintah dapat menyesuaikan kenaikan itu dengan penghasilan masyarakat,” pintanya.

Hal yang sama diungkapkan Siska (22), penumpang angkot jurusan Ampera-Pakjo ini menyebut, kenaikan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Karena, berdasarkan informasi dari media, naik menjadi Rp 3.500. Tapi, nyatanya sopir minta ongkos angkutan Rp 4.000

“Katanya pemerintah tempel stiker di angkot dan bus. Tapi tidak ada. Pengawasannya sangat lemah,”gerutunya.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang, Masripin Toyib meminta agar semua pihak mematuhi ketentuan yang sudah di sepakati bersama pada saat rapat gabungan yang melibatkan semua perwakilan. Menurutnya, sopir wajib mematuhinya, apalagi belum lama ini sudah dikeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) soal besaran kenaikan tersebut.

“Sesuai Perwali, tarif angkutan naik 25 persen semenjak kenaikan BBM. Ada sangsi tegas bagi mereka yang melanggarnya,”tegasnya, saat dihubungi, Rabu (3/12).

Menurut Masripin, tidak ada alasan lagi sopir maupun pemilik angkot untuk menaikkan tarif diluar kesepakatan. Sebab, dari ongkos angkot sebelumnya Rp 2.700 sekarang naik menjadi Rp 3.500. Katanya, tarif tersebut sudah adil bagi angkot dan penumpang.

“Apabila naik terlalu tinggi, pasti akan menyusahkan penumpang dan dikhawatirkan mereka bisa berpindah ke moda angkutan lain seperti ojek atau kendaraan pribadi seperti motor,” sebutnya.

Masripin menghimbau kepada para penumpang angkutan umum, agar menyiapkan uang recehan untuk membayar ongkos angkutan. Karena, biasanya sopir tidak ada uang kembalian Rp 500.

“Kami sudah ultimatum pengusaha angkot dan bus agar mematuhi aturan. Jika sudah sangat meresahkan, kami tidak segan-segan menindaknya,” tukasnya.

 

TEKS    : ALAM TRIE MARSATA

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *