Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak Masih Mendominasi

 

 

Ilustrasi | Antarafoto.com

Ilustrasi | Antarafoto.com

PALEMBANG – Kekerasan seksual masih mendominasi daftar tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di Sumsel. Dari data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumsel, angka rata-rata kasus meningkat tiap tahun.

Ketua P2TP2A, Eliza Alex Noerdin mengatakan, kekerasan seksual pada perempuan dan anak tahun 2011 mencapai 611 kasus. Peningkatan kasus terjadi di tahun 2012, di mana pihaknya mendapati laporan 1.062 kasus. Sedangkan di tahun 2013 menjadi 957 kasus.

“Ini data yang terlapor, saya yakin kejadian yang tidak dilaporkan lebih banyak. Karena ada kecenderungan para korban enggan melaporkan kejadian yang mereka alami,” kata Eliza saat sosialisasi P2TP2A di Graha Bina Praja, Selasa (2/12).

Ia mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak justru dikaitkan pada penilaian tentang jejak moralitas dan latar belakang korban. Minimnya pemahaman masyarakat, ujarnya, memicu korban semakin terpuruk usai kejadian yang dialami.

“Mereka dituduh sebagai penyebab, atau memberi peluang terjadinya peristiwa tersebut. Korban kekerasan seksual dapat menghancurkan seluruh integritas hidupnya. Tak sedikit korban yang putus asa dan merasa tidak mampu lagi melanjutkan hidup,” sebutnya.

Karena tudingan itu, para korban kekerasan seksual kata Eliza enggan melapor kejadian yang meraka alami. Eliza menjelaskan, kekerasan seksual berdampak psikologis terhadap korban yang sulit disembuhkan. Tak hanya sekedar pelanggaran asusila, tapi kekerasan seksual berdampak pada penurunan mental pada korban.

“Banyak orang menilai kekerasan terhadap perempuan dan anak hanya pelanggaran kesusilaan semata. Padahal tak sesederhana itu. Korban kekerasan butuh perlindungan dan pendampingan,” katanya.

P2TP2A Sumsel memberikan bantuan pendampingan kepada korban untuk menghadapi kasus yang ia jalani. Selain mendapat bantuan dari para penegak hukum, P2TP2A wajib mengaksistensi korban dan memberikan pendidikan.

“Kadang kasus-kasus itu terhenti di tengah perjalanan. Salah satu tugas dari P2TP2A ini untuk pendampingan ke aparat penegak hukum, pengadilan dan juga ke bagian kesehatan,” ucapnya.

Lanjutnya, tujuan diberikannya sosialisasi tersebut kepada masyarakat agar masyarakat merasa lebih aman bahwa kasus yang tidak terselesaikan

dapat dibantu pendampingannya oleh P2TP2A.

“Contohnya kasus perkosaan yang dilakukan oleh salah oknum guru terhadap siswinya. Kasus ini telah berjalan kurang lebih 2 tahun tapi terhenti entah dimana. Setelah kami melakukan pendampingan, akhirnya berhasil dan tersangka sudah mendapatkan vonis selama 11 tahun penjara,” pungkasnya.

 

TEKS    : IMAM MAHFUDZ

EDITOR   : IMRON SUPRIYADI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *