Listri Mati, Pelayanan Publik Terganggu

PALEMBANG – Padamnya aliran listrik di Kota Palembang, Jumat (31/10), membuat pelayanan publik di Kota Palembang terganggu. Pantauan Kabar Sumatera, sejumlah pelayanan publik terhenti. Misalnya, air bersih dari PDAM Tirta Musi tidak mengalir. Kemudian Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Palembang, terhenti.

Selain itu, traffic light tidak berfungsi hingga membuat lalu lintas di metropolis menjadi amburadul dan kemacetan pun tidak bisa dihindarkan.

Di Simpang Charitas misalnya, traffic light di kawasan tersebut tidak berfungsi. Akibatnya, pengendara kendaraan baik dari arah Ampera ke Simpang Polda, maupun dari Jalan Kapten A Rivai menuju Jalan Veteran, saling berebut untuk melintas. Hal serupa juga terjadi di traffic light di Jalan Kolonel Atmo.

Mengantisipasi terjadi kemcetan panjang, Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang dibantu Satuan Lalulintas (Satlantas) Polresta Palembang menurunkan, personil tambahan untuk mengatur lajunya kendaraan agar tertib. “Kami sangat sesalkan padamnya listrik ini. Kondisi lalu lintas jadi kacau,” kata Kepala Dishub Palembang, Masripin Toyib, kemarin.

Masripin mengatakan, dari 45 titik persimpangan yang memiliki traffic light, hanya ada 15 traffic light yang menggunakan solar cell yakni di Jalan Merdeka, Simpang Kodim, dan lainnya.

“Jadi bisa dibayangkan, dampak yang diakibatkan pemadaman listrik oleh PT PLN tersebut. Rata-rata traffic light di Palembang, menggunakan aliran listrik dalam mengoperasikannya,” keluhnya.

Hotel Merugi

Padamnya aliran listrik ini, juga dirasakan dampaknya oleh pengusaha. Sektor perhotelan misalnya, mengalami kerugian materi akibat padamnya aliran listrik. Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel, Herlan Asfiudin mengatakan, pemadaman listrik sejak dua hari terakhir, berdampak pada pengeluaran hotel-hotel di Palembang.

“Untuk mengaliri listrik di setiap ruangan di hotel, kami gunakan genset. Tentunya hal itu membutuhkan biaya tambahan, karena dalam mengoperasikannya menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika listrik padam terus, kami sangat rugi,” sebut Herlan saat dihubungi, kemarin.

Herlan mengaku, genset sebagai motor pengerak pembangkit listrik di perhotelan dirasakan membuat biaya operasional membengkak dan hal sangat memberatkan. “Kalau padamnya satu atau dua jam, mungkin kami bisa memaklumi. Tapi ini sampai puluhan jam, kami sangat sesalkan. Karena kami bisa merugi, terutama pelayanan kepada konsumen bisa menurun,” akunya.

Menurut Herlan, dampak padamnya aliran listrik tersebut juga terputusnya aliran air bersih dari PDAM Tirta Musi Palembang, seharusnya PLN sudah memikirkan kondisi itu sejak jauh-jauh hari.

“Listrik padam, air bersih juga tidak mengalir. Kami bingung. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika kondisi ini terjadi terus menerus, apalagi pelanggan diwajibkan harus tepat waktu pembayaran listrik,” katanya.

Terpisah, Direktur Operasional PDAM Tirta Musi Palembang, Andi Wijaya membenarkan distribusi air bersih terhenti akibat padamnya listrik. “Operasional mesin Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM Tirta Musi bergantung pada PLN. Jadi apabila listrik padam, otomatis aliran air bersih terhenti,” katanya.

Menurut Andi, PDAM tidak bisa berbuat banyak. Karena hal itu bergantung dari PT PLN. “Kalau mau beli mesin genset, biayanya tinggi, perlu kajian mendalam dulu. Tidak bisa asal beli saja. Yah, kami harap kerusakan segera bisa diperbaiki hingga lisrik maupun distribusi air bersih normal kembali,” tukasnya.

 

TEKS           : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *