Tuntut Penyelesaian Lahan, Suku Anak Dalam Jalan Kaki Menuju Istana

Aksi jalan kaki Suku Anak Dalam (SAD), Jambi. | Foto ; Bagus Kurniawan/KS

Aksi jalan kaki Suku Anak Dalam (SAD), Jambi. | Foto ; Bagus Kurniawan/KS

INDERALAYA – Aksi jalan kaki sejauh 1.000 kilometer yang dilakukan puluhan warga masyarakat adat Suku Anak Dalam (SAD) dan para petani Batanghari Provinsi Jambi menuju Ibukota Jakarta, yang dimulai sejak Rabu (15/10), lalu sudah melintas di Jalan Lintas Timur (Jalintim), KM 18, Inderalaya, Ogan Ilir, Kamis (30/10), kemarin.

Puluhan perwakilan petani dan SAD, asal Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi ini memulai perjalanannya dari Jambi melalui Jalan Lintas Timur (Jalintim), Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Lampung hingga Jakarta.

Perjalanan tersebut rencananya akan berakhir di Kantor Kementrian Kehutanan (Kemenhut), DPR RI, BPN, KPK dan berakhir di Istana Negara, dengan menemui langsung Presiden Joko Widodo.

Aksi jalan kaki tersebut dilakukan untuk menuntut penyelesaian area Lahan seluas 3.550 hektar milik SAD. Baik petani dan SAD tidak puas akan keputusan Pemkab Batanghari dan Provinsi Jambi.

Pantauan di lapangan, Kamis (30/10) pukul 14.30 WIB,  rombongan baru di Jalintim Palembang-Inderalaya tepatnya di Km 18 Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir (OI), setelah dua minggu lebih melakukan perjalanan kaki.

Terdapat satu mobil jenis L300 pick-up warna hitam bernopol BH 9821 LK yang pada bagian kabin sebelah kanan bertuliskan “Aksi Berjalan Kaki Jambi-Jakarta” .

Puluhan laki-laki dan perempuan SAD yang mayoritas berkulit kuning langsat perawakan kurus sesekali melambaikan tangan di mana ada sebuah kardus bekas minuman air mineral, sebagai isyarat meminta uang kepada para pengemudi kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang kebetulan melintas.

Tindakan yang dilakukan oleh puluhan anak Suku Dalam itu, membuat para pengendara merasa iba dengan cara memberikan sejumlah uang kepada mereka.

Salah satu petani yang enggan namanya disebutkan mengatakan, dirinya sudah melakukan perjalanan selama 16 hari dari Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Menurutnya, aksi nekat tersebut dilakukan untuk mengadukan nasibnya e beberapa instansi terkait termasuk DPR RI dan Presiden Joko Widodo.

“Kami semua sudah 16 hari di jalan, mau ke Jakarta temui Presiden. Kami mau minta penyelesaian lahan kami. Petani dan SAD sangat dirugikan,” singkatnya sambil berlalu.

 

Teks    : Junaedi Abdillah

EDITOR  : SARONO P SASMITO




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *