Sumsel Tertinggi Konflik SDA

Ilustrasi Buah Kelapa Sawit | Ist

Ilustrasi Buah Kelapa Sawit | Ist

PALEMBANG – Sumatera Selatan (Sumsel), terbilang aman dari konflik suku, ras maupun agama. Namun provinsi ini justru sangat rentan terjadinya konflik perebutan Sumber Daya Alam (SDA). Banyaknya perkebunan swasta, membuat Sumsel tertinggi dalam konflik SDA.

“Di Indonesia, Sumsel adalah provinsi yang tinggi konflik SDA nya. Selain Sumsel, provinsi lainnya adalah Riau,” kata Direktur Sustainable Social Development Partnership (Scale Up), Harry Oktavian yang dibincangi usai pelatihan dengan tajuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam penyelesain konflik SDA, Senin (27/10) di Hotel Azza, Palembang.

Ia menyebut, berbagai konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan berulangkali terjadi di Sumsel. Bahkan kata Harry, konflik tersebut pernah memakan korban jiwa. Karenanya sebut Harry, masyarakat perlu dilatih untuk menyelesaikan konflik tersebut dengan mengedapankan mediasi atau negosisasi.

Menurutnya, tekanan yang dilakukan kepada pemerintah atau perusahaan terkait dengan konflik, tidak hanya semat-mata dilakukan dengan aksi massa saja. “Tekanan bisa juga dilakuan, dalam mediasi. Ini yang kita berikan pemahaman kepada masyarakat, sehingga dalam hal mempertahankan hak-haknya tidak selalu dengan aksi-aksi massa yang tidak jarang berujung kekerasan dan menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.

Sementara itu koordinator Divisi Gambut, Serikat Petani Sriwijaya (SPS), Sudarto Marelo menambahkan, aksi atau mediasi sama-sama penting dalam perlawanan untuk mempertahankan hak. “Ketika ada persoalan antara pemerintah atau perusahaan dengan masyarakat terkait dengan SDA, aksi massa dan mediasi atau negosisasi sama-sama penting” terangnya.

Biasnya terang Darto, mediasi baru akan terjadi jika sudah ada aksi massa berulangkali. “Karenanya masyarakat, harus bisa memanfaatkan mediasi untuk mencapai tujuan yang diperjuangkan,” tukasnya.
TEKS    : ARDHY FITRIANSYAH
EDITOR    : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *