Jangan Katakan Peluang Kerja Sempit

Ilst. Job Hunter | Ist

Ilst. Job Hunter | Ist

Persoalan krusial di negeri ini yang memerlukan pemecahan segera adalah pengangguran. Hampir dikatakan, persoalan pengangguran sering disebut masalah sosial yang nyaris tidak pernah bisa teratasi. Pergantian sturuktur negara melalui Pemilihan Presiden tak juga bisa mengatasi pengangguran. Bahkan, kebijakan baru terhadap masuknya investasi asing ke negeri ini, yang idealnya dapat menyerap tenaga kerja, justeru berbalik menjadi “mesin pembunuh” bagi tenaga lokal, yang seharusnya diberdayakan.

Namun berbincang soal pengangguran, selama ini yang timbul hampir semua pihak menyalahkan pemerintah. Atau mengambinghitamkan perubahan struktur dan kegiatan ekonomi, atau menuduh perusahaan yang melakukan pengurangan kegiatan produksi sehingga sebagian tenaga kerja diberhentikan. Muncullah pengangguran.

Selain itu, pengangguran juga sering disebut sebagai akibat dari perubahan permintaan terhadap tenaga kerja yang sifatnya berkala, misalnya menganggur pada saat selang antara musim tanam dan musim panen. Bahkan perubahan teknologi (technological unemployment) juga sering dituduh sebagai salah satu penyebab meningkatnya jumlah pengangguran. Sejumlah pihak menuduh, kemajuan teknologi, telah mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin, sehingga peluang kerja semakin sempit.

Dalam persoalan ini, sebagian orang ada kecenderungan menyalahkan pihak lain ketika diantara sebagian kita, tidak bisa banyak berbuat sesuatu. Sebuah pertanyaan yang patut dijawab adalah, jika Anda menari, kemudian kaki Anda terkilir atau keseleo, apakah Anda akan menyalahkan lantai? Pun demikian halnya dengan realitas pengangguran di negeri ini. Apakah dengan perubahan dan struktur ekonomi, kemajuan teknologi yang diiringi dengan pergantian tenaga manusia menjadi mesin, apakah Anda juga masih menyalahkan perubahan itu?

Dalam masalah ini, sepertinya harus ada perubahan cara pandang. Meningkatnya jumlah pengangguran memang menjadi fakta yang tak terbantahkan. Tetapi informasi dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) atau Badan Pusat Stataistik (BPS) setiap tahun yang melakukan updating data jumlah pengangguran, tidak seharusnya membuat kita terlarut dalam paradigmna lama yang selalu menyalahkan “lantai” saat kaki kita terkikir saat kita menari. Tetapi bagaimana kita harus memperbaiki respond an cara menari kita, sehingga kelak saat kita menari, kita tidak lagi menyalahkan lantai, tetapi akan menjadi manusia yang lebih evaluatif dan menggali potensi kreatifitas, demi pengembangan diri sebagai bentuk sikap mengiring perubahan.

Dengan demikian, tuduhan sempitnya pengangguran itu bukan karena pemerintah tidak membuka lapangan kerja, atau karena kemajuan teknologi dan perubahan struktur ekonomi. Tetapi pola pikir diantara sebagian kita yang tidak mau keluar dari “kedisinian”, sehingga tuduhan sempitnya peluang kerja itu masih demikian kuat. Pekerjaan yang ada dalam benak sebagian kita, selalu berkutat pada Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan BUMN, BUMD, dengan gaji besar dan sejenisnya. Sementara, kerja kreatif seperti menyewakan payung dan tikar kepada wisatawan, menjual souvenir kepada pengunjung Jembatan Ampera dan Sungai Musi, dan kerja kreatif lainnya, dianggap nista dan atau pekerjaan rendahan.

 

 

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *