Sengketa Lahan di Jakabaring, Sekda Ancam Tuntut Warga

PALEMBANG – Tak hanya lahan yang dihibahkan Pemprov Sumsel ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah untuk dijadikan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) di Jakabaring, saja yang bermasalah.

Ternyata lahan untuk pembangunan Masjid Sriwijaya di kawasan Jakabaring Sport City (JSC), Jakabaring, juga bermasalah. Lahan tersebut diduduki oleh warga, karena ganti ruginya diklaim belum dibayarkan.

Namun Pemprov Sumsel, akan mempertahankannya. bahkan pemprov akan menuntut masyarakat yang masih bertahan dilahan tersebut. Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel, Mukti Sulaiman bahkan menantang warga ke pengadilan, jika memang menganggap tanah tersebut adalah milik mereka. “Kita siap adu alat bukti di pengadilan,” katanya usai rapat lanjutan di kantornya, Rabu (22/10).

Namun jika masyarakat yang merasa atau menganggap lahan tersebut milik mereka, namun tidak melakukan tuntutan ke pengadilan, maka sebut Mukti, pemprov yang akan menuntut. “Kalau mereka tidak nuntut, maka akan kita tuntut dengan catatan kalau mereka masih tetap bertahan disana. Untuk sementara ini, ada tiga Kepala keluarga (KK) yang bermasalah terkait ganti rugi dan untuk luasannya sekitar 500 meter,” ujar Mukti.

Mukti mengungkapkan, proses penimbunan untuk pembangunan Masjid Sriwijaya tersebut, akan tetap atau terus dilakukan. “Penimbunan tetap dilakukan, karena tidak mungkin lagi ditunda mengingat waktu pembangunan sebentar lagi. Untuk pembangunan sendiri, akan dimulai pada 2015 nanti,” ungkapnya.

Untuk permasalahan adanya makam di lokasi pembangunan Masjid Sriwijaya, pemprov jelasnya, akan melakukan pemindahan terhadap makam tersebut. “Tali asih akan diberikan Yayasan Masjid Sriwijaya kepada pemilik lahan, yang akan pindah. Untuk besarannya, bervariatif karena sesuai dengan kondisi pondok yang bersangkutan. Contohnya kalau pondoknya masih bagus, mungkin akan diberikan Rp 6 juta. Tetapi jika pondoknya tinggal roboh, maka akan diberikan tali asih Rp 500 ribu,” jelas Mukti.

Sementara itu, Kepala Biro (Kabiro) Pemerintahan Pemprov Sumsel, Edward Chandra menambahkan, pemprov sudah melakukan ganti rugi reklamasi atas tanah atau lahan yang akan dibangun Masjid Sriwijaya pada 1991-1996 lalu.

“Tanah untuk pembangunan Masjid Sriwijaya ini seluas 9 hektar, itu sudah diganti rugi. Kalau masih ada yang ngotot, maka akan dibawa ke pengadilan. Karena dalam aturan tidak boleh melaksanakan ganti rugi dua kali,” tegasnya.

Untuk penimbunan lahan jelasnya, sudah dilakukan pihaknya beberapa hari yang lalu. “Karena masih ada yang mengklaim itu tanah milik mereka, maka kita melakukan penimbunan disekitar rumah mereka dulu. Untuk penimbunan ini, dilakukan oleh Dinas PU Cipta Karya dan dikawal pihak keamanan seperti Sat Pol PP dan kepolisian,” tukasnya.

 

TEKS           : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *