Harga Rumah Transmigrasi Rp 20 Juta?

KAYUAGUNG – Niat baik pemerintah membuka lahan transmigrasi bagi masyarakat yang tidak mampu ternyata dikhianati sebagian oknum tidak bertanggungjawab. Seperti terjadi wilayah transmigrasi SP 7 Gajah Mati Sungai Menang, Kabupaten OKI yang diduga diperjualbelikan oleh para peserta transmigran sendiri kemasyarakat setempat dengan harga bervariasi antara Rp 20 sampai Rp 30 juta setelah menjualkan lahan transmigasi para peserta yang sebelumnya telah resmi ditempatkan sekitar bulan Aprila lalu oleh Disnakertrans OKI yang diketahui pemerintah kecamatan dan desa setempat.

Anehnya, kendati permasalahan jual beli lahan transmigrasi tersebut mencuat seolah-oleh Disnakertrans tidak tahu bahkan dinilai kurang pengawasan.

Keterangan dari Supen (35) Kaur Pemerintahan Desa Gajah Mati, pihaknya tak menyengkal banyak lahan transmigrasi yang telah dijualkan seharga Rp 20 sampai Rp 30 juta dengan warga setempat, diduga para peserta yang menjualkan tersebut tidak tahan tinggal disana.

Pihaknya menduga terjadinya jualbeli ini ada keterlibatan pihak Disnakertrans.” Seharusnya mereka pihak Disnkaretran ada pengawasan yang ketat melalui pemerintah setempat dan UPTD dari Diskertrans.”ujarnya.

Soal jualbeli itu, pihaknya pernah melihat langsung kwitansi jualbeli tersebut. Dan selain itu ada juga dugaan keterlibatan kades setempat.” ungkapnya.

Tentang ketidakberesan penempatan peserta transmigran kata Supen, telah terjadi sejak awal. Dimana peserta yang seharusnya tidak dipungut biaya untuk menjadi peserta, mala oleh pihak kades dan kroninya dipungut Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.

“Waktu dulu kalau mau jadi peserta harus bayar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, dengan kades. Mereka mau bayar semua. Padahal sesuai aturan tidak dipungut biaya. Nah, masa hal ini tidak diketahui oleh pihak Disnakertrans OKI,” terangnya.

Pihaknya berharap sebagai bagian dari pemerintahan setempat agar permasalahan ini ditindaklanjuti oleh pihak bupati OKI, agar bisa menindak oknum-oknum yang bermain dibalik jualbeli lahan transmigrasi tersebut.

Tambah dia, kendari sebagian ada yang dijualbelikan, namun ada juga sebagian peserta yang masih bertahan dan betah menjadi peserta. Sampai saat ini mereka tetap menjalankan aktivitas sebagai transmigran dan menggarap lahan seluas dua hektare yang telah diberikan pemerintah untuk bercocok tanam. Serta jatah hidup seperti sembako selalu dikirim oleh pemerintah bagi para peserta yang masih tetap bertahan.

 

TEKS   : DONI AFRIANSYAH
EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *