Idealisme Pemuda, Kemana Kau Pergi?

(Menyongsong Hari Pemuda 28 Oktober)

Oleh:Rinaldi Syahril Jurnalis Palembang

Oleh Rinaldi Syahril

(Penulis adalah Jurnalis di Palembang)

Sebentar lagi, bangsa Indonesia akan memperingati Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober. Setiap peringatan selalu digaungkan refleksi eksistensi peran generasi muda dalam pembangunan bangsa. Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini selain berlangsung dalam suasana tahun politik juga semakin dekatnya kehadiran fenomena kependudukan berupa Bonus Demografi. Partisipasi politik kaum muda selalu menjadi warna menentukan dalam iklim demokrasi.

Pemuda semestinya jauh dari sikap eksklusif dan apatis terhadap dinamika bangsa, apalagi berkhianat terhadap amanah rakyat. kondisi bangsa masih dilanda sakit akibat terpaan krisis multidimensional yang tidak kunjung reda. Kondisi ini membutuhkan kearifan setiap komponen anak negeri ini untuk berperan serta mengantarkan Indonesia naik ke podium terhormat dalam kompetisi global. Obsesi tersebut cukup realistis apabila semangat optimisme mampu ditumbuhkan.

Prinsip filsafat Hegelian menyebutkan tidak akan besar suatu bangsa tanpa adanya konflik atau krisis. Sudah semestinya pemuda tidak ketinggalan langkah untuk turun gelanggang bersama rakyat membangun peradaban bangsa melalui kemampuan kritis dan akademisnya. ”Jangan tanyakan apa yang kita dapat dari negara namun tanyakan apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini” inilah falsafah kebangsaan yang harus ditancapkan kuat dalam setiap diri pemuda. Idealisme ini akan mencapai optimal jika setiap komponen paham akan fungsi, peran, dan posisinya masing-masing.

Pemuda merupakan cadangan keras (iron stock) yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Pemuda adalah harapan rakyat untuk mengimplementasikan idealisme dan kemampuannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Diantaranya identitas dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas bangsa, kini tergerus oleh modernitas. Akhirnya banyak nilai-nilai yang mencair dan menguap. Gejala tersebut muncul dalam sikap dan perilaku pemuda menjaga konsistensi pelaksanaaan fungsinya. Idealisme pemuda sering luntur ketika mulai melepas karakternya, karena tidak kuat menghadapi godaan.

Lebih memprihatinkan lagi, dalam kondisi kekinian, kepekaan pemuda Indonesia kian melemah, dan kepedulian sosial terhadap dinamika lingkungannya juga kian rapuh. Padahal inilah yang menyebabkan keberhasilan angkatan 1998 mendobrak rezim orde baru dengan mengusung agenda reformasi, Pemuda tidak mampu mengawalnya, sehingga keadaan menjadi semakin tak menentu. Sebuah pembelajaran sebenarnya telah diberikan melalui pengalaman gagalnya angkatan 1966 mempertahankan idealismenya, hingga malah menumbuhkan sebuah rezim yang kokoh bercokol selama 32 tahun.

Idealisme yang tinggi telah menempatkan pemuda memiliki fungsi ketiga sebagai sang penyeru kebenaran. Seruan pemuda idealis akan murni tanpa ada keberpihakan terhadap suatu kepentingan kecuali kepentingan rakyat dan bangsa.

Pemahaman yang tepat terhadap fungsinya, akan mudah dibuktikan dengan melihat peran nyata apa yang mampu dimainkan pemuda dalam dinamika bangsa. Melihat fungsi strategis yang dimiliki, maka semakin mempertegas tuntutan akan eksistensi pemuda dalam menunjukkan perannya di garda depan perjalanan bangsa. Sekali lagi intelektualitas dan idealisme merupakan bekal utama untuk beraktualitas yang telah ditunggu-tunggu karya nyatanya.

Lebih dari tiga dasawarsa bangsa ini berjalan dalam kungkungan konsep ideologi yang selalu mengutamakan pertumbuhan dan modernisasi tanpa memeperhatikan aspek pemerataan. Dobrakan rakyat melalui mahasiswa dan pemuda berhasil membuka pintu bagi lahirnya era reformasi. Kesuksesan tersebut masih merupakan awalan perjuangan panjang. Pemuda justru terlena dan terperdaya sehingga menjadi kurang kuat dalam mengawal agenda reformasi.

Sudah saatnya pemuda kembali tampil pada jalannya, melakukan kontrol dan berkontribusi bagi perjalanan bangsa ini. Relakah kita bangsa yang konon mempunyai nilai budaya tertinggi di jagad ini terus menerus terbaring dalam kondisi sakit dan hanya menjadi pecundang dalam tataran kehidupan global?.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *