Awas, Puting Beliung Mengancam

PALEMBANG – Dititik penghujung kemarau, biasanya akan beralih ke musim selanjutnya atau disebut dengan istilah pancaroba. Pancaroba inilah, yang dikhawatirkan mendatangkan efek kurang baik bagi cuaca, salah satunya angin puting beliung.

Dalam masa pergantian musim, arah angin akan menjadi variatif dan tidak bisa diperkirakan. Pasalnya angin musim kemarau dari arah timur ke barat, akan bertabrakan dengan datangnya angin musim penghujan yang datang dari arah sebaliknya dan terkadang akan menciptakan terjadinya angin ribut dan angin puting beliung.

Potensi angin puting beliung ini kata Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kenten, Indra Purnama, harus diwaspadai masyarakat.

“Ada beberapa daerah di Sumsel yang rawan angin puting beliung, diantaranya OKI, OI, Muaraenim, Banyuasin, dan Muba. Di Kabupaten tersebut, setiap tahun tercatat selalu terjadi angin puting beliung,” kata Indra yang dibincangi di ruang kerjanya, Senin (20/10).

Untuk mengetahui potensi terjadinya angin puting beliung atau tidak terang Indra, bisa dilihat dengan berbagai ciri. Di siang hari, jika ada awan putih menjulang tinggi seperti bunga kol yang dalam waktu singkat, kemudian berubah menjadi awan gelap maka potensial terjadi puting beliung.

Bisanya sebut Indra, ini akan diikuti dengan hembusan udara dingin dan hujan lebat, yang terkadang disertai hujan es. “Angin puting beliung terjadi, karena suhu udara di siang hari musim kemarau yang sangat panas, namun karena sedang pancaroba, awan gelap pun muncul karena terbawa angin. Terjadi pergolakan arus udara naik turun di dalam awan, akibat radiasi sinar matahari. Arus udara yang turun dengan keceparan tinggi menghembus ke permukaan bumi dan bergerak secara acak,” jelasnya.

Tak ada cara mencegah terjadinya angin puting beliung, karena ini adalah kondisi alam. Namun untuk masyarakat Sumsel khususnya, antisipasi dapat dilakukan dengan mengenali tanda-tanda alam tersebut.

Sementara untuk kabut asap sebut Indra, kini mulai berkurang akibat hujan alami yang turun kemarin siang. Jarak pandang untuk aktifitas penerbangan, sudah jauh diatas normal yakni lebih dari lima kilometer.

“Kualitas udara pun mulai membaik. Sebelum hujan, terhitung kualitas udara yang disertai parkitel kabut asap mencapai 400 mikrogram/m3. Namun setelah hujan, kualitas udara membaik karena partikel kabut asap 150 mg/m3, sedikit diatas normal pencemaran udara yakni 100 mg/m3,” tukasnya.

 

TEKS            : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *