Agama Dasar Utama Bagi Persatuan Bangsa

Irwan-Sabidi

Oleh: Irwan Sabidi, S.Pd.I

(Akademisi Universitas Muhammadiyah Palembang)

Kepemimpinan dan kredibilitas tergantung pada hati, bukan hanya otak. Itulah ungkapan Barry Z. Posner, dalam bukunya The Leadership Challage dan Credibility. Kedua hal tersebut seharusnya ada pada setiap pemimpin bangsa ini, punya Intelektualitas yang cerdas dan juga punya hati yang ikhlas untuk memimpin bangsa ini lepas dari berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Dengan penyatuan dua hal tersebut tentunya akan mampu membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia menuju kesejakteraan umum, kecerdasan bangsa, dan keadilan sosial sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Permasalahan bangsa yang semakin kompleks tentunya membutuhkan energi lebih besar pula untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Pemuda tentunya merupakan sosok yang masih mempunyai banyak energi untuk dapat menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa dengan memberikan mereka kesempatan untuk menjadi pemimpin. Masalah kepemimpinan memang bukan hanya masalah umur tua atau muda, tetapi juga masalah kapabilitas yang dimilik pemimpin tersebut.

Apabila kita berkaca pada sejarah, proklamasi bangsa ini terjadi juga karena pemuda yang bersikukuh dengan segala idealismenya untuk segera mengikrarkannya sehingga segara lepas dari belenggu penjajah. Runtuhnya Tirani Orde Baru juga tidak lepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak ketika melihat berbagai ketidakadilan di masyarakat. Pemuda memang merupakan sebuah simbol idealisme dalam sejarah bangsa dari waktu ke waktu. Melihat hal tersebut tentunya pemuda memiliki nilai-nilai yang lebih untuk memimpin bangsa ini.

Bangsa ini sudah cukup lelah mendengar dan malu melihat moral pemimpin bangsa yang ada di ambang batas kritis. Karena itulah, sudah saatnya pemuda membuktikan idealismenya dengan menjadi pemimpin bangsa ini. Pemimpin muda tentunya akan membawa harapan baru bagi rakyat, dan membawa angin segar kancah kepemimpinan kedepan. Sudah seharusnya kita memberikan kesempatan dan apresiasi terhadap para pemuda untuk menjadi pemimpin yang produktif. Harapan kita bersama pemuda bisa menjadi pemimpin yang bermoral dan intelektual sehingga mampu membawa Indonesia menuju negara yang terhormat.

Melihat pemimpin bangsa saat ini, cita-cita luhur proklamasi tersebut agaknya hanya akan ada dalam impian. Pemimpin bangsa telah kehilangan hati dan otak bahkan miskinnya hati nurani. Terbukti dengan semakin banyaknya kasus-kasus memalukan dilakukan pejabat yang notabene pemimpin bangsa di semua lini tatanan pemerintahan, mulai dari pelecehan seksual anggota dewan hingga penyuapan jaksa. Kegagalan bangsa ini lepas dari permasalahan adalah indikator bahwa para pemimpin tidak punya kapabilitas intelektual yang cukup. Kebijakan-kebijakan yang mereka ambilpun lebih cenderung pada solusi instant terhadap permasalahan yang saat itu mereka hadapi, bukan pada penyelesaian masalah secara komprehensif. Dengan pola pikir pemimpin seperti itu, tidak mengerankan jika pemimpin lebih memilih menjual asset bangsa dari pada mencari alternative solusi lain.

Kini menjadi tantangan bagi semua rakyat Indonesia, ke depan, yakni bagaimana agar politiskus-politikus yang tampil di negeri ini adalah politikus moralis. Menguduskan politik hanya mungkin terjadi apabila semua orang terlibat dalam pekerjaan besar tersebut. Jika tidak, kemerosotan moral elit itu secara bersamaan akan membawa kemunduran mental bangsa. Indonesia memerlukan pemimpin yang tidak hanya pandai, memiliki kemampuan manajerial yang piawai, tapi juga memiliki sifat kepahlawanan.

Pemimpin yang demikian adalah pahlawan, karena keberaniannya membela dan menyuarakan kebenaran, bekerja dengan tujuan menguntungkan semua orang tanpa perbedaan, dan yang mendatangkan kebaikan bagi semua. Hadirnya pemimpin-pemimpin yang baik, bermoral, dan berintegritas akan memperkuat persatuan bangsa, yang merupakan dasar bagi persatuan umat beragama. Demikian juga sebaliknya, persatuan umat beragama menjadi dasar utama bagi persatuan bangsa. Dengan demikian jelaslah kemunduran mental dan moralitas bangsa ini harus menjadi tanggung jawab semua rakyat Indonesia, khususnya para elite negeri ini.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *