Menjadi Guru Kreatif untuk Bangsa

Oleh Jum Herman, S.Ag

(Praktisi Pendidikan di Muaraenim)

Menjadi guru sama hal seperti menjadi sutradara. Sosok yang mesti pandai mengatur skenario di kelasnya. Untuk bisa menjadikan kelas aktif dalam proses pembelajaran, guru memiliki kecakapan yang aktif. Sebagai salah satu komponen penting dalam pendidikan guru memiliki kekuatan untuk merubah peserta didik kearah yang diharapkan orang tua. Terkadang guru juga difungsikan sebagai benteng pertahanan (preservasi) dan tempat persemaian nilai-nilai sebuah tradisi yang dianggap luhur oleh sebuah bangsa.

Dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru; Guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kekuatan dari seorang guru, setidaknya, jika diberdayakan secara maksimal, dalam pengertian bahwa guru memiliki kecakapan mendidik, mendidik tidak saja sebuah kegiatan transfer of knowledge yaitu mengisi otak kiri tetapi lebih dari itu, mendidikan dimaknai sebagai proses membentuk sikap moral dan sikap sosial dengan baik bagi peserta didik.

Pada saat itulah guru benar-benar akan memiliki kekuatan sebagai perubah (agent of change). Mendidik dengan mengembangkan aspek kognisi (transfer of head) saja hanya akan melahirkan generasi yang pandai tapi lemah moralnya. Atau mengembangkan aspek afeksinya (transfer of heart) saja akan melahirkan manusia saleh tetapi lemah intelektualitasnya. Prinsip keseimbangan (at-Tawazun) bagi seorang guru adalah hal yang sangat penting dalam pendidikan, karena manusia memiliki aspek head, hand dan heart yang merupakan satu komponen utuh dan saling terkait. Dalam hal ini empat pilar pendidikan sebagaimana yang direkomendasikan oleh UNESCO sangatlah tepat yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning how to live together.

Menggapai Kesejahteraan

Guru sebagai bagian dari dunia pendidikan memiliki peranan dalam mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan yang seyogyanya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang suku, ras, jabatan dan status sosial atau istilah yang populer “education for all” (pendidikan untuk semua) hal tersebut sesuai dengan prinsip dasar demokrasi. Visi pendidikan hendaknya diorientasikan pada bagaimana peserta didik di masa depanya bisa berkembang dan tumbuh menjadi pribadi mandiri, mempunyai harga diri dan tidak sekedar mempunyai having (materi-materi, jabatan dan politisi), inilah yang menjadi tugas berat dari seorang guru.

Pendidikan memiliki fungsi yang sangat strategis dalam upaya pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan sebagai proses perubahan yang sistematik dalam berbagai aspek kehidupan bangsa, yang bukan saja hanya sekedar berkesinambungan dan berkelanjutkan tetapi harus semakin berkwalitas. Sehingga proses hasil pembangunan tidak tertinggal oleh tatanan kehidupan global dan tidak tergilas oleh tatanan yang semakin berkembang. Memberdayakan guru sebagai bagian dari sistem pendidikan yang ada, baik secara struktural maupun secara kultural. Guru sebagai sebuah kesatuan integral dalam sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara (formal, informal dan non-formal).

Pemberdayaan pemerintah bagi guru seakan kurang menjadi simpul yang kuat, seiring dengan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Perhatian pemerintah bagaimana pun sangat perlu (subsidi dana, tenaga dan fikiran) terutama untuk semakin mengokohkan idealisme guru dalam kesejahteraan kehidupannya. Basis yang kuat dan kokoh dari masyarakat dan pola pengelolaan kependidikan yang baik pada sisi yang lain dengan memberdayakan potensi dalam dan luar adalah kunci kesuksesan kemajuan pendidikan bangsa. Pola sinergis dan integral dengan manajemen dan pengelolaan yang komprehensif akan menjadikan guru memiliki mutu dan ciri keunggulan pada pendidikan. Maka perlu perumusan yang jelas, terarah, fisibel, bahkan ideal dari Pemerintah untuk kemajuan dan kesejahteraan guru.

Bakti seorang guru laiknya terukir dalam sanubari peserta didik, jikalau tidak ada guru maka tidak akan ada presiden, politisi, birokrat ataupun yang lainnya, dengan pengabdiannya sebagai pelita dalam kegelapan, laksana embun penyejuk dalam kehausan. Namun bisakah pemerintah mengakomodir hal ini. Jawaban yang perlu membutuhkan sebuah proses demi kemajuan pendidikan anak-anak bangsa.**

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *