Kemarau Berkepanjangan, Petani di SDU Gagal Panen

Panorama Semendo Darat Ulu | Foto : Dok KS

Panorama Semendo Darat Ulu | Foto : Dok KS

MUARAENIM – Musim kemarau panjang yang terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel), tak hanya menyebabkan kabut asap akibat kebakaran lahan. Kemarau juga, membuat petani di Sumsel mengalami gagal panen.

Nasib ini, dialami petani di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muaraenim. Petani sayur di kecamatan tersebut, hanya bisa pasrah melihat sayur mayur yang mereka tanam seperti kubis, wortel, kacang panjang dan cabai tak bisa di panen.

“Selama kemarau ini, tanaman sayur yang kami tanam mati karena kekeringan,” keluh Azhari, salah seorang petani sayur di Desa Datar Lebar, Kecamatan Semende Darat Ulu (SDU), Kabupaten Muaraenim yang dibincangi Kabar Sumatera, Jumat (17/10).

Menurutnya, kebun sayur miliknya seluas satu hektar, mayoritas ditanami cabai jenis kiyo F1 (cabai kriting hibrida) dan jenis tanaman lainnya. Tanaman itu jelas Azhari, harusnya sudah mulai memasuki masa panen namun itu gagal karena sayur yang ia tanam rontok dan kekeringan.

“Cabai yang saya tanam, hasil persilangan. Sejak ditanam, sudah tiga kali panen. Namun sekarang gagal panen, karena karena pertumbuhan cabai terganggu akibat kemarau. Biasanya cabai jenis ini, bisa di panen lebih dari sepuluh kali,” kata Azhari tampak lesu.

Tak hanya kemarau yang menyebabkan Azhari dan petani lainnya di Kecamatan SDU, Muaraenim, gagal panen. Penyakit antrax dan sakit kuning atau jamur, juga menyerang ribuan batang cabai milik nya.

Biasanya sebut Azhari, setiap kali panen ia bisa menghasilkan 600 Kilogram (Kg) cabai dengan harga jual Rp 8.000/Kg. “Sekarang jangankan mengharapkan hasil, kembali modal saja tidak. Padahal itu perawatan, butuh biaya tak sedikit seperti untuk pengelolahan lahan, pupuk, obat – obatan dan bibit,” ungkapnya.

Sebenarnya terang Azhari, ia sudah berusaha untu menjaga agar tanaman cabai milik nya tidak kekeringan dengan cara disiram. Namun itu, tidak membantu agar cabai tumbuh normal.

“Semoga Allah SWT, cepat menurunkan hujan sehingga pertumbuhan cabai menjadi normal dan lahan yang siap ditanam kembali. Karena upaya yang dilakukan seperti penyiraman tetap saja tidak maksimal,” tukasnya.

 

TEKS           : SISWANT

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *