Garam Kembali Ditebar di Langit Sumsel

Proses Penyiapan Garam yang Akan ditaburkan di Angkasa Menggunakan Pesawat | Foto : Ist

Proses Penyiapan Garam yang Akan ditaburkan di Angkasa Menggunakan Pesawat | Foto : Ist

  • Lakukan Hujan Buatan
  • Awan Potensial Hujan Sudah Terbentuk
  • 10 Ribu Hektar Lahan dan Hutan Terbakar

PALEMBANG – Bencana kabut asap yang sudah terjadi di Sumsel lebih dari satu bulan terakhir, nampaknya akan segera berakhir. Sebab hujan kemungkinan besar akan segera turun, karena awan potensial sudah muncul.

Munculnya awan potensial di langit Sumsel tersebut, artinya kemungkinan untuk terjadinya hujan dengan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) lebih besar jika dibanding dengan sebelumnya.

Sebab itu kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yulizar Dinoto, BPBD akan melanjutkan kembali melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), guna melakukan hujan buatan.

“Besok (Sabtu), kita akan lakukan kembali TMC dengan menabur garam di langit Sumsel menggunakan pesawat jenis Hercules,” kata Yulizar yang dibincangi usai Shalat Istisqa di halaman Kantor BPBD Sumsel, Jumat (17/10).

Sebanyak empat ton garam sebut Yulizar, akan ditebar di langit Sumsel. Adapun, cara kerja TMC, dengan melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) seperti garam. Sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan, akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

TMC bebernya kembali dilakukan, atas rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). TMC ini sebelumnya sudah pernah dilakukan, namun gagal karena tidak adanya awan potensial untuk membuat terjadinya hujan. Namun saat ini awal potensial itu terang Yulizar, sudah muncul dilanglit Sumsel sehingga peluang terjadinya hujan sangat besar.

Tak hanya melakukan TMC, untuk menghilangkan kabut asap, water boombing terus dilakukan dibeberapa daerah di Sumsel. Saat ini sebut Yulizar, dari pantauan satelit masih ada 121 titik api (hotspot) di Sumsel. Yang terbanyak sebutnya, di Kabupaten OKI yakni 116 titik api tersebar di Kecamatan Pangkalan Lampam, Air Sugihan, Cengal dan Pedamaran.

“Water boombing yang kita lakukan selama ini, tidak bisa memadamkan api di lahan gambut. Sebab titik api berada di kedalaman dua meter, sehingga saat dilakukan water boombing justru menimbulkan kepulan asap,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi (Kasi) Observasi BMKG SMB II, Agus Santosa menyebut, dalam satu pekan kedepan Palembang kemungkinan akan diguyur hujan karena awan potensial hujan sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit. “Akan tetapi prediksi kita, hujan akan turun dengan sporadis atau hanya dibeberapa tempat saja dan dengan waktu yang cukup singkat,” ungkapnya.

10 Ribu Hektar Terbakar

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumsel, Sigit Wibowo menyebut, luasanlahan dan hutan di Sumsel yang terbakar saat ini, sudah mencapai 10 ribu hektar. “Untuk jumlah pasti, kita masih belum tahu. Yang jelas kebakaran di lahan perkebunan, lebih besar persentasenya dibanding hutan. Untuk lahan terdata lebih dari 7.000 hektare, sementara hutan sekitar 3.000 hektare,” terang Sigit.

Ia menyebut, luasan lahan yang terbakar sebagian besar merupakan hutan produksi, yakni areal hutan yang dipertahankan sebagai kawasan hutan dan berfungsi untuk menghasilkan hasil hutan bagi kepentingan konsumsi masyarakat, industri dan eksport.

“Hutan ini biasanya terletak di dalam batas-batas suatu HPH (memiliki izin HPH) dan dikelola untuk menghasilkan kayu. Dan ini yang mendominasi terbakar. Tapi dari data, hutan hanya persentase yang kecil, dominasi ke lahan perkebunan,” tukasnya.

 

TEKS            : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *