Pencemaran Udara Capai Titik Terburuk, Sekolah Harus Diliburkan

para pelajar dihimbau untuk memakai masker ketika pergi kesekolah karena kabut asap sangat pekat pada pagi hari. | Foto : Iwan Cheristian /KS

para pelajar dihimbau untuk memakai masker ketika pergi kesekolah karena kabut asap sangat pekat pada pagi hari. | Foto : Iwan Cheristian /KS

  • BLH Rekomendasikan Libur Tiga Hari
  • Pencemaran Udara Capai Titik Terburuk
  • Disdik tak Mau Liburkan Sekolah

PALEMBANG – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Selatan (Sumsel), mengeluarkan rekomendasi untuk meliburkan sekolah-sekolah, menyusul semakin parahnya kondisi kabut asap di Sumsel dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data yang dimiliki BLH, pencemaran udara akibat kabut asap di Sumsel, kemarin telah mencapai angka 834 atau mencapai titik cemar tertinggi dari beberapa bulan sejak kabut asap menyelimuti Sumsel.

Kondisi ini dianggap berbahaya untuk kesehatan, terutama untuk anak-anak yang rentan terkena penyakit gangguan pernafasan. “Kita rekomendasikan, agar aktivitas belajar dan mengajar di sekolah dihentikan sementara waktu. Disarankan sekolah meliburkan siswanya, selama tiga hari dan bisa diperpanjang jika kondisi kabut asap tidak semakin baik,” kata Kepala BLH Sumsel, Lukitariaty, Senin (13/10).

BLH juga terangnya, merekomendasikan peningkatan status siaga di Sumsel. Itu menyusul, semakin banyaknya titik api di Sumsel dalam beberapa waktu terakhir. Dengan kondisi kabut asap yang belum juga berkurang, BLH menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas diluar rumah karena tingginya tingkat pencemaran udara. Masyarakat juga dihibau untuk menggunakan masker, selama menjalankan aktifitasnya.

Namun Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, masih belum mau meliburkan aktivitas belajar dan mengajar. Kepala Disdik Sumsel, Widodo yang dikonfirmasi menyebut, masih ada alternatif lain selain meliburkan siswa.

“Untuk meliburkan sekolah, mungkin masih belum. Namun kita berikan alternatif misalnya, menganjurkan siswa memakai masker. Kedua, jadwal masuk sekolah di undur atau jam pelajaran dipadatkan,” kata Widodo.

“Alternatif lain, bisa melakukan fakultatif, Misalnya, guru memberikan tugas pada siswanya agar tetap di rumah dan masih mengerjakan tugas dari sekolah. Kemudian, kondisi pekatnya asap ini dijadikan sebagai tema pembelajaran, yang bisa dijadikan contoh kalau berkebun dengan cara membakar lahan dapat merusak lingkungan,” tukasnya.

 

TEKS          : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *