Tersenyumlah Wahai Petani Kopi

Ilustrasi Kopi

Ilustrasi Kopi

PAGARALAM – Meskipun hasil panen komoditi jenis kopi tergolong sedikit, tapi para petani di Bumi Besemah ini setidaknya bisa bernafas lega. Mengingat harga komuditi ini sejak dua bulan terakhir harganya tergolong stabil atau berkisar Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu per kilogram.

“Stabilnya harga kopi saat ini, setidaknya dapat  membantu para masyarakat petani dalam mengimbangi harga sembako yang terus mengalami kenaikan,” diungkapkan Sopan (50), petani kopi di  Dusun Talang Sawah, Kelurahan Bangunrejo, Kecamatan Pagaralam Selatan, Ahad (12/10).

Dikisahkan Sopan, stabilnya harga kopi itu memang sudah berlangsung sejak beberpa bulan ini. Bisa jadi harganya akan naik lagi, mengingat hasil panen di penghujung tahun kali ini tergolong sedikit. Sehingga harga biji kopi semakin naik karena permintaan kebutuhan pasar bakal melonjak.

“Jika melihat pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, pasca Idul Adha banyak masyarakat membutuhan bubuk kopi, terutama untuk hajatan  atau untuk menjamu tamu pada persedekahan haji,” katanya.

Senada dengan Sopan, Ahmad Ali (50) petani kopi lainnya berkata, tanaman kopi merupakan komoditi andalan DI Bumi Besemah. Ketika panen, biasanya dilakukan  secara serentak. Bahkan ada pula sebagian petani tidak membedakan yang mana buah matang maupun yang belum siap dipanen.

“Ya, faktor itu dilakukan lantaran harga jual biji kopi lagi bagus, sehingga sebagian petani yang ada tidak membedakan mana buah kopi siap panen atau tidak. Tentunya hal itu dapat mempengarui kualitas  biji kopi dan harga jual pun menurun,” katanya seraya berujar jika petani kerap memaksakan memetik buah yang masih hijau, bisa dipastikan kualitas kopi kurang bagus dan harganya pun turut terkena imbasnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah dan  Pengelolaan Pasar Kota Pagaralam, Rahmad Madro mengakui, sejak tiga bulan terakhir harga jual biji kopi terus naik. Sehingga hal itu dapat mengimbangi kebutuhan petani terhadap harga sembako saat ini.

“Nah, jelang akhir tahun, hasil panen terus berkurang dan permintaan pasar terus meningkat. Sehingga mempengarui harga jual saat ini,” ujarnya singkat.

Rupiah di Atas Aspal

Hamparan biji kopi di atas aspal dinilai sangat menggangu kenyamanan pengendara saat melintas. Seperti yang terjadi di kawasan Kelurahan Slibar, Kecamatan Pagaralam Utara, petani setempat lebih memilih menjemur kopi di atas aspal. Padahal hal itu sudah tidak diperbolehkan lagi, namun sepertinya tidak begitu diindahkan para petani yang ada, bahkan sudah menjadi tradisi.

“Kalau tidak berhati-hati, pengendara motor bisa tergelincir saat melintas diatas hamparan biji kopi. Apalagi dalam kondisi basah tentunya sangat licin, bahkan dapat mencidrai pengendara yang melintas di jalur tersebut,” kata Bambang salah satu pengendara yang melintas dijalur tersebut.

Yahadi (58), warga Pagar Jaya, Kecamatan Pagaralam Selatan mengatakan, saat mintas dijalur tersebut dengan sepeda motor  ia perna tergelincir diatas hamparan biji kopi yang dijemur petani setempat.

“Saya pernah tergelincir di jalur tersebut saat melewati hamparan biji kopi yang dijemur warga setempat,” jelasnya seraya berharap agar pihak terkait dapat menegur maupun memberikan larangan terhadap warga yang memanfaatkan ruas jalan untuk menjemur kopi.

Terpisah, Camat Pagaralam Utara Yansari SE mengemukakan, sejauh ini pihaknya telah menegur para petani yang kerap menghampar biji kopi di jalan Laskar Aji Kelurahan Slibar maupun tempat lainnya.

“Ya, kita tengah berupaya melakukan pendekatan secara persuasif kepada warga yang kerap menjemur hasil perkebunan diatas ruas jalan yang ada,” katanya seraya menegaskan jika masih saja tidak diindahkan maka kita akan melaporkan hal itu kepada pihak Satuan Pol PP setempat sebagai aparatur yang menenggani permasalahan itu.

Selain menggangu kenyamanan maupun mengancam pengendara lanjutnya,  biji kopi yang digiling lalu dijemur diatas aspal tentunya dapat menguranggi kualitas komuditi tersebut.

“Mari kita wujudkan kenyamanan para pengendara saat melintas diruas jalan yang ada, sekaligus memelihara fasilitas umum yang sudah menjadi kepentingan bersama tersebut,” hendaknya.

 

TEKS   : ANTONI STEFEN

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *