Hapus “Pacaran Sehat” dalam Kurikulum 2013

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – tema pacaran sehat dalam buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk kelas XI, mengundang tanggapan dari M Firdaus, S.Pd, salah satu praktisi pendidikan di Palembang. Firdaus menilai, tema pacaran sehat tidak sesuai dengan etika sosial yang berkembang di masyarakat. “Oleh sebab itu istilah pacaran sehat dalam kurikulum harus dihapus, dan buku itu harus direvisi,” ujarnya kepada Kabar Sumatera saat dibincangi, belum lama ini.

Lebih lanjut, menurut mantan aktifis Teater Kreta Palembang ini, pendidikan bagi usia remaja seharus diarahkan pada hal yang baik, dan bukan mengajak remaja untuk melakukan hal-hal yang buruk. Kesannya, menurut Firdaus, adanay istilah pacaran sehat ini, seolah mengajak anak remaja pacaran yang sehat.

“Kalau tema pacaran sehat, itu namanya mengajak anak remaja untuk pacaran. Lagi pula pacaran yang sehat itu yang bagaimana? Ukurannya apa? Ini yang tidak jelas,” ujarnya.

Menurut Firdaus, karena tema pelajaran yang disusun itu terkait erat dengan pembentukan karakter anak melalui kurikulum, jika memang akan membahas tentang kedekatan antar anak remaja, bukan dengan memilih diksi “pacaran sehat” tetapi alangkah baiknya dengan mengedepankan relasi pertemanan, adab, sopan santun, etika pergaulan antara satu dengan lainnya, termasuk bagaimana bergaul dengan alam.

“Saat ini yang sudah terkikis itu etika, sopan santun, hubungan relasi antar teman yang berubah menjadi individalistik. Saya pikir ini yang seharusnya dimasukkan dalam kurikulum, bukan malam pacaran sehat,” tegasnya.

Oleh sebab itu, menurut Firdaus tematik pacaran sehat sangat tidak layak dimasukkan dalam kurikulum. “Selain akan berdampak tidak baik, pacaran apapun alasannya tidak akan seiring dengan visi, misi dan prinsip pendidikan,” ujarnya.

Terpisah, Pustrini Hayati, S.Pd, mantan guru honorer di OKU Selatan menilai, masuknya tema pacaran sehat dalam kurikulum itu menunjukkan rendahnya intelektual penyusunnya. Menurut Tri—panggilan akrab Pustrini Hayati, seharusnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus lebih teliti dalam meloloskan buku yang akan disebarluaskan ke sejumlah sekolah. “Menurut saya kasus ini sepenuhnya bukan kesalahan penyusun dan penggagas, tetapi Kemendikbud juga wajib ikut bertanggungjawab . Kemendikbud tidak jeli melihat tema, sampai akhirnya lolos tanpa sensor,” ujarnya agak kesal.

Menurut Tri, persoalan pacaran sehat dalam buku itu telah menciderai wajah pendidikan kita. “Kok bisa-bisanya ide itu muncul dan masuk dalam kurikulum, yang menyusun buku ini sudah keblinger,” tegasnya. **

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *