68 Warga di Kabupaten OKI Terinfeksi HIV/AIDS

Ilst.

Ilst.

KAYUAGUNG – Maraknya lokalisasi di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), khususnya di sepanjang Jalur Lintas Timur (Jalintim) kerap memicu penularan virus HIV/AIDS bagi warga di Bumi Bende Seguguk. Hingga saat ini, penderita HIV/AIDS di Kabupaten OKI sebanyak 68 orang dan di tahun 2014 ini seorang penderitanya meninggal dunia.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI pun terus berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir penularan virus mematikan ini, dengan gencar melakukan sosialisasi dan mendirikan klinik VCT dan CST di RSUD Kayuagung serta beberapa puskesmas yang tersebar di 18 kecamatan dalam wilayah OKI.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) OKI, HM Lubis SKM MKes didampingi Kabid P2PL, Ubaidilah SKM mengatakan, setiap tahunnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten OKI terus menurun, hal ini dikarenakan gencarnya sosialisasi yang dilakukan para petugas yang terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS di Bumi Bende Seguguk.

“Sejak tahun 2011 lalu hingga tahun ini, jumlah penderita HIV/AIDS di OKI terus menurun. Hal ini dikarenakan gencarnya sosialisasi dan perubahan prilaku dari masyarakat untuk menghindari terjangkitnya virus mematikan tersebut,” ujar Kadinkes OKI, Rabu (8/10).

Menurutnya, tahun 2010 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 8 orang, tahun 2011 sebanyak 21 orang, tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebanyak 15 orang dan per September 2014 sebanyak 9 orang.

“Kami harapkan tahun 2014 ini tidak ada lagi kasus HIV/AIDS yang kita temukan. Dari 9 orang yang kita data tahun ini, 1 diantaranya telah meninggal dunia karena penyakitnya sudah sangat parah,” terangnya.

Selain sosialisasi kepada masyarakat, kata dia, upaya lain dalam meminimalisir meluasnya virus HIV/AIDS yang dilakukan Pemkab OKI yakni mendirikan Klinik VCT di RSUD Kayuagung dan di Puskesmas Tugujaya Lempuing serta Puskesmas Jejawi.

“Selain melakukan pencegahan, Pemkab OKI juga melakukan pengobatan terhadap para penderita dengan mendirikan Klinik CTS di RSUD Kayuagung, di klinik VCT juga sudah kita tempatkan tenaga konselor yang mendampingi para penderita untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan,” bebernya.

Pihaknya pun terus berharap peran serta masyarakat dalam hal penanggulangan virus HIV/AIDS, masyarakat juga diharapkan dapat mengubah prilaku hidup. “Kami jelaskan juga, penularan virus HIV/AIDS ini bisa terjadi hanya melalui 3 media, yakni berhubungan badan, melalui aliran darah dan menyusui, selebihnya tidak. Namun, kita harapkan masyarakat dapat berpikir lebih sehat, lebih baik mencegah dari pada harus mengobati,” tandasnya.

 

TEKS    : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *