2,5 Kg Karet Sebanding 1 Kg Beras

Seorang pengepul karet sedang menyusun karet hasil pembeliannya dari warga

Seorang pengepul karet sedang menyusun karet hasil pembeliannya dari warga | Dok KS

EMPAT LAWANG – Harga karet, semakin hari semakin anjok. Kondisi membuat petani karet kian menjerit. Bagaimana tidak, di Kabupaten Empat Lawang misalnya, harga 2,5 Kilogram (Kg) karet sebanding dengan harga 1 Kg beras.

Informasi dihimpun Kabar Sumatera, harga karet petani dengan kualitas Tatal Banyak (TB) hanya dikisaran Rp 3000 hingga Rp 3500 per Kg nya. Sementara jenis Tatal Sedang (TS) hanya dikisaran Rp 4500 per Kg .

Di Empat Lawang, sebagian besar petani memilih pengelolaan jenis TB karena meskipun diupayakan kualitas TS terkadang pengepul masih memberikan harga sama. “Petani didesak kebutuhan ekonomi pak, makanya penjualan dilakukan per hari penyadapan. Kualitasnya, ya asal masih laku saja dengan pengepul keliling,” kata Usman (38), salah satu petani karet di Desa Pancurmas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang ketika dibincangi, Rabu (8/10).

Saat ini jelasnya, harga karet hanya Rp 3.500 per Kg. Jika dibandingan dengan harga beras yang mencapai Rp 8.500 per Kg, artinya untuk membeli 1 Kg beras maka petani karet harus menjual karet sebanyak 2,5 Kg

Anjloknya harga karet ini sebutnya, semakin diperparah dengan produksi karet yang menurun. Menurut Usman, di musim kering atau gugur daun seperti saat ini biasanya getah karet hasil sadapan petani menurun drastis.

“Menyadap karet sendiri saja hasilnya tak seberapa, apalagi petani yang mengambil upah sadar karet orang lain,” keluhnya seraya menyebut saat ini ia hanya bisa mengumpulkan 20 Kg getah karet per dua hari dari satu hektar kebun karet miliknya.

Keluhan senada disampaikan Tarmizi (45), petani karet Tebing Tinggi. Menurutnya, anjloknya harga karet tidak sebanding kenaikan harga kebutuhan bahan pokok di pasaran. Makanya, dia berharap ada solusi dari pemerintah agar harga karet bisa kembali normal. “Ya kalau bisa normal lagi, Rp 6000 per Kg saja sudah lumayan pak,” ucapnya.

Tarmizi sendiri mengaku, tidak memiliki kebun sendiri. Ia hanya bekerja sebagai buruh sadap. Penghasilannya hanya Rp 200 ribu per minggu, dengan syarat hasil sadapan normal. Uang Rp 200 ribu itu menurut Tarmizi, tak cukup apa-apa sebab biaya transport yang dikeluarkannya untuk menuju ke kebun yang biasa ia sadap, cukup besar.

Karenanya terang dia, saat ini ia lebih memilih berganti profesi dengan menjadi buruh bangunan atau menambang galian C di Sungai Musi. “Bukan hanya yang bekerja sebagai buruh sadap, pemilik kebun karet juga banyak yang mengeluh. Banyak banyak yang mau jual kebunnya, karena harganya terus jatuh,” ucapnya.

Sementara itu Jalim (30), pengepul karet keliling di wilayah Tebing Tinggi mengaku, anjloknya harga karet bukan hanya di Empat Lawang, tapi juga dirasakan petani di daerah lainnya.

Diakuinya, saat ini sudah banyak pengepul karet, bangkrut. “Kami hanya sanggup beli Rp 3.500 per Kg, tapi kadang kasihan juga dengan petani. Mau bagaimana lagi, harga ke pengepul besar juga anjlok,” ujarnya.

Jalim pun berharap, harga karet kembali normal. Selain itu, para petani juga harus menjaga kualitas hasil sadapan. Sebab, terkadang menjadi alasan penolakan karet dari Tebing Tinggi karena diragukan kualitasnya. “Kualitas juga jadi alasan, kadang kita tak mampu mengelak saat diperiksa ada batu atau tumpukan tanah didalam bantalan getah karet,” tukasnya.

 

TEKS           : SAUKANI

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *