1,2 Juta Penduduk Sumsel Miskin

Ilustrasi | Dok KS

Ilustrasi | Dok KS

PALEMBANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat sampai sekarang, terdapat sekitar 1,2 juta masyarakat Sumsel masih dalam kategori miskin. Masih banyaknya masyarakat yang belum masuk dalam kategori hidup layak ini, dipicu masih tingginya tingkat pengangguran dan masih lemahnya kesadaran masyarakat untuk bekerja.

hal itu disebutkan Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel, Mukti Sulaiman dalam rapat Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Klaster I di Kantor Pemprov Sumsel, Rabu (8/10). “Persentase kemiskinan Sumsel berada di angka 16 – 18 persen. Ini yang harus kita tekan,” kata Mukti.

Dijelaskan Mukti, kondisi kemiskinan ini, hampir terjadi di setiap pedesaan di kabupaten/kota, sedangkan untuk ditingkat perkotaan, terjadi pada masyarakat pinggiran kota.

“Contohnya saja, mungkin ada daerah yang sulit diakses melalui infrastruktur. Selain itu, masih terpatrinya budaya malas yang masih mengutamakan perempuan untuk bekerja, sedangkan laki-laki hanya bermalas-malasan,” jelasnya.

Untuk hal ini, lanjut Mukti, pihaknya tidak tinggal diam. Sejumlah upaya melalui program-program pemerintah telah dilakukan, mulai dari bantuan kesehatan, pendidikan hingga perbaikan rumah-rumah yang tidak layak huni.

“Perbaikan infrastruktur di segala lini serta peningkatan suplai listrik di sejumlah daerah juga telah kita lakukan. Setidaknya, masing-masing daerah, wajib membuka lapangan kerja,” tegasnya.

Sementara, beradasarkan data yang dimiliki Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel, sejak 2013 lalu, jumlah masyarakat miskin sempat mengalami penurunan. Namun, terjadinya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), membuat angka tersebut kembali meningkat.

“Jumlahnya dari 13,8 persen, meningkat menjadi 14,02 persen. Kalau BBM kembali naik, bisa saja jumlah masyarakat miskin kembali merangkak naik pula,” kata Kepala Dinsos Sumsel, Apriyadi.

Pernyataan yang dilontarkan Apriyadi memang cukup beralasan. Data serupa juga dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel. BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2014, sebanyak 1.100.829 jiwa atau 13,91 persen dari total penduduk Sumsel.

Dibandingkan dengan penghitungan jumlah penduduk miskin pada periode September 2013, telah terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 3.740 orang atau 0,15 persen. “Makanya, pada 2015 mendatang, kita akan melakukan updating (pembaharuan) data dari sejumlah instansi untuk melihat jumlah realnya,” terangnya.

Menurut Apriyadi, perbedaan antara masyarakat miskin dan masyarakat hampir miskin sangat tipis selisihnya. Masyarakat miskin, memiliki penghasilan Rp 290 ribu perbulan, sedangkan masyarakat hampir miskin memiliki penghasilan Rp 292 ribu perbulan. “Jadi kalau seandainya harga BBM kembali naik, tentunya angka masyarakat hampir miskin bisa melonjak naik,” ujarnya.

Apriyadi menambahkan, Dinsos sendiri, mengupayakan program peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin ini dalam bentuk perbaikan rumah tidak layak huni, askesos serta pemberian bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Disisi lain, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel, Belman Karmuda menambahkan, Kementerian Sosial RI pun telah menginstruksikan Dinsos Sumsel untuk terus menekan angka kemiskinan ini. Salah satunya dengan melakukan program bedah kampung. “Untuk tahun ini, ada dua kabupaten/kota yang akan menjalankan program tersebut, yakni Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muaraenim,” tukasnya.

 

TEKS       : IMAM MAHFUZ

EDITOR       : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *