Target MDGs di Sumsel Sulit Tercapai

PALEMBANG – Target Milenium Development Golds (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium tahun 2014 di Sumatera Selatan (Sumsel), nampaknya akan sulit dicapai. Pasalnya beberapa indikator untuk pencapaian target MDGs di Sumsel, masih belum terpenuhi.

Asisten IV bidang Administrasi dan Umum Provinsi Sumsel, Joko Imam Santoso menyebut, MDGs merupakan program pemerintah pusat yang harus dijalankan di seluruh provinsi di Indonesia.

“Termasuk kita, juga ada beberapa target yang sulit dicapai dan memerlukan perhatian khusus,” kata Joko yang dibincangi usai pembukaan rapat koordinasi dan evaluasi percepatan capaian MDGs provinsi dan kabupaten/kota se Sumsel tahun 2014 di Hotel Arista Palembang beberapa waktu yang lalu.

“Adapun target MDGs yang sulit dicapai dan memerlukan perhatian khusus di Sumsel, diantaranya target 1B tentang penurunan angka kemiskinan dan angka kelaparan hingga separuhnya pada 2015. Kemudian target 5A, tentang angka kematian ibu dan target 7C tentang proporsi rumah tangga dengan akses terhadap sumber air minum layak perkotaan dan pedesaan,” jelas Joko.

Joko menyebut, untuk target 1B tentang penurunan angka kemiskinan dan angka kelaparan di Sumsel, menunjukkan tren menurun dari 2008-2015. Dimana pada 2008, tingkat kemiskinan di Sumsel berada pada angka 17,73 persen dan pada Maret 2014 menjadi 13,91 persen.

Namun sayangnya penurunan tersebut masih jauh dari harapan, mengingat target MDGs untuk angka kemiskinan pada 2015 sebesar 7,5 persen. “Sedangkan untuk target 5A tentang angka kematian ibu di Sumsel, mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun,” terangnya.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada 2007 sebut Joko, angka kematian ibu di Sumsel sebesar 277 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka ini juga masih diangka nasional sebesar 228 per 100 ribu kelahiran hidup dan jauh lebih tinggi, pada rencana aksi daerah MGGS 2015 sebesar 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Data SDKI 2012 menunjukan bahwa, angka kematian ibu menigkat secara nasional sebesar 359 per 100 ribu kelahiran hidup.

Sedangkan untuk target 7C tentang proporsi rumah tangga dengan akses terhadap sumber air minum layak perkotaan dan pedesaan pada 2012, sebesar 43,79 persen atau menurun menjadi 43,34 persen pada 2013 dengan rincian perkotaan sebesar 44,16 persen dan pedesaan 42,93 persen.

Dibandingkan target MDGs pada 2015, proporsi rumah tangga dan akses berkelanjutan terhadap sumber air minum layak baik perkotaan maupun pedesaan menunjukan raport merah, dimana target MDGs 2015 perkotaan sebesar 75,29 persen dan pedesaan sebesar 65, 81 persen.

Sementara berdasarkan data Sumsenas BPS 2007-2013, terlihat bahwa proporsi penduduk atau rumah tangga yang mengakses fasilitas sanitasi yang layak menurut kabupaten/kota di Sumsel memperlihatkan angka yang terus meningkat yaitu 50,93 pada 2012 menjadi 58,41 pada 2013.

Masih sedikit lebih rendah dari pada capaian nasional sebesar 59,71 persen, dan target nasional pada 2015 sebesar 62,41 persen, proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar layak pedesaan masih tergolong raport merah yaitu sebesar 46,30 persen. “Angka tersebut juga masih jauh dibandingkan target MGGS nasional pedesaan pada 2015 sebesar 55,55 persen,” tukasnya.

 

TEKS          : IMAM MAHFUZ

EDITOR        : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *