Hadapi MEA 2015, Industri Kecil Menengah di Sumsel Harus Siap

Ilustrasi Asean Games | Ist

Ilustrasi Bendera Negara-negara Asean | Ist

PALEMBANG – Rencana Indonesia dan negara-negara di wilayah Asia Tenggara akan membentuk sebuah kawasan yang terintegrasi atau dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang akan dimulai 2015 mendatang, memicu kekhawatiran banyak pihak mengenai kesiapan pelaku ekonomi di Indonesia menghadapi persaingan.

Namun menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Permana, siap tidak siap, pelaku usaha terutama Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Indonesia termasuk Sumsel, harus siap menghadapi MEA 2015. Menurut Permana, kehadiran produk luar tentu tidak bisa dibendung, terutama produk China sebab itu bagian dari resiko.

“Pasar Amerika saja mampu dikuasasi perdagangan China, saya kira hal itu tidak bisa dibendung. Namun tentu ada keuntungan keutungan bagi kita, kami selalu pemerintah tentu mempersiapkan hal itu,” kata Permana yang dibincangi, Selasa (7/10).

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Industri Kecil Menengah (IKM), Disperindag Sumsel, Afrian Jhoni menambahkan, Disperindag terus mempersiapkan pelaku IKM di Sumsel untuk menghadapi MEA 2015.

“Sebenarnya, kekhawatiran tentu ada. Tetapi produk Indonesia terkhusus Sumsel, tidak kalah bersaing dengan produk-produk dari negara lain seperti Malaysia, Thailand atau Singapura,” ucapnya.

Produk Sumsel jelasnya memiliki karakteristik khas tersendiri yang tidak dimiliki negara lain, hal itu tentu membuat daya tarik bagi konsumen terutama pasar Asean. “Misalkan jumputan, songket serta kerajinan lainnya, termasuk produk kuliner kita,” terangnya.

Hal lainnya masih kata Jhoni, Disperindag mendorong IKM untuk meningkatkan kualitas produk, agar bisa bersaing. Selain itu, legalitas perizinan produk juga harus mendapatkan perhatian. “Tanpa ada legalitas produk, standarisasi, bagaimana produk Sumsel mau bersaing, makanya kami dorong itu,” sebutnya.

Menurutnya ini bagian dari langkah menyongsong MEA. Ia mengakui produk IKM Sumsel masih lemah dalam hal packing dan kemasan. Sebab lanjutnya, produknya berkualitas tapi kemasannya tidak menarik akan mengurangi ketertarikan konsumen. “Saat ini sudah ada jawabannya, Sumsel sudah memiliki rumah kemasan sebagai industri packing. Memang jumlahnya belum banyak tapi ini sebagai langkah,” ungkapnya.

Kemudian kata dia, diversifikasi produk merupakan sebuah keharusan untuk membuat produk IKM siap bersaing dalam pasar Asean. “Misalkan songket, jangan hanya jadi selendang, bisa saja dibuat pakaian fashion dengan kemasan dan pola design yang lebih mnarik,” tukasnya.

 

TEKS        : IMAM MAHFUZ

EDITOR       : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *