Polisi OKI Usut Mark Up Proyek Taman Kota

polisipolisiKAYUAGUNG – Polres Ogan Komering Ilir (OKI) siap menyelidiki kasus dugaan mark up proyek pembangunan taman kota di bantaran sungai sebanyak dua titik oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) OKI. Demikian dikatakan Kapolres OKI, melalui Kanit Pidsus, Ipda Jailili, Kamis (2/10). Menurut Jailili, pihaknya sudah mengetahui informasi kasus dugaan mark up proyek pembangunan taman kota itu, melalui sejumlah surat kabar.

“Kami sudah mengetahui informasi itu, dari beberapa surat kabar. Sebagai bahan rujukan kami akan menyelidiki kasus ini,” kata Ipda Jailili, kemarin.

Kata Jailili, mengenai tentang adanya kasus dugaan mark up pembangunan proyek taman kota itu, sendiri pihanya juga mengatakan, sebelumnya juga menerima laporan dari anggota LSM, terkait pengerjaan proyek tersebut.

“Kita akan panggil pihak dinas terkait selalu instansi yang bertanggung jawab dalam pembangunan proyek tersebut, untuk dimintai keterangan. Dan bila memang terbukti kita akan siap menindaknya,” ujarnya.

Dari berita sebelumnya, proyek pembuatan taman kota oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang berlokasi di dua tempat yakni Kelurahan Sidakersa dekat masjid Agung Solihin di pinggir sungai, dan Kelurahan Kutaraya dekat SMAN 3 Unggulan, diduga terjadi mark up terhadap proyek bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) 2014.

Satu paket kegiatan tersebut menghabiskan pagu Rp198.3600.000, sementara jumlah pekerjaan untuk taman kota itu dua paket. Sehingga total pembangunan taman menghabiskan Rp396.720.000.

Dari dana sebesar itu, berdasarkan pengamatan di lokasi taman itu,  jumlah tanaman yang ditanam yakni tanaman asoka dan ratu jimat, tanaman sikat ada 3 pohon, cemara dengan ukuran tinggi 1 meter ada 10 batang, dan masih ada sejumlah tanaman buang kecil lainnya, ukuran luas tanaman sendiri diperkirakan 30×5 meter, dengan ditembok tanah liat merah dan ditanami rumput diatas tanah itu. Untuk memperindah taman pihak BLH membangun patung singa.

Drai hasil pengamatan, melihat dana yang dipergunakan diduga ada mark up dalam pengerjaan proyek taman itu. Seorang sumber kepada koran ini, melihat kondisi taman tersebut, rasanya tidak sampai menghabiskan dana sebesar itu. Sebab itu, kata dia ada dugaan dalam pengerjaan proyek itu terjadi mark up.

“Ya kita lihat dari kasat mata kalau membandingkan dana yang ada, bias diduga mark up,” katanya yang enggan namanya disebutkan.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) OKI, Nursula, SSos, mengatakan mengenai proyek pembangunan taman sabanyak dua titik itu memang merupakan proyek BLH yang dikerjakan oleh pihak ketiga. Proyek itu secara pendanaan berasal dari BLH, namun untuk teknis dalam penataan taman pihaknya meminta bantuan dari Dinas Pertamanan dan Tata Kota.

“Kami kira itu tidak menyalahi aturan, dan dikerjakan oleh pihak ketiga,” kata Nursula.

Menurut Nursula, dana sebesar itu tidak lantas dihabiskan sebatas pengerjaan saja, melainkan masih digunakan selama enam bulan kedepan untuk biaya perawatan.

“Misalnya untuk penggantian tanaman yang rusak, ” terangnya.

Pihaknya yakin dalam pengerjaan proyek itu tidak menyalahi aturan, karena dikerjakan pihak ketiga.

“Ya itu kan yang mengerjakan kontraktor, kami hanya pendaan saja,” tandasnya.

 

TEKS   : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *