Januari-September 2014, 43 Pengendara Tewas di Jalintim

ilustrasi

ilustrasi

KAYUAGUNG – Selama bulan Januari-September 2014, sebanyak 43 pengendara tewas kecelakaan lalulitas di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kecelakaan dominan tarjadi di ruas Jalan Lintas Timur (Jalintim) Kabupaten OKI. Demikian disampaikan Kapolres OKI AKBP Erwin Rahmat  melalui Kasat Lantas AKP Haris Batara Simbolon, Rabu  (1/10).

Kata Haris Batara Simbolon, selama Januari-Sepetember 2014 lakalantas di OKI terjadi sebanyak  68 kasus.

“Korban meninggal dunia 43 orang,  luka berat  38 orang, korban luka ringan  51 orang dan kerugian material Rp 699.000.000,” kata Haris.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kecelakaan di wilayah OKI, dengan melakukan operasi, penyuluhan dengan kelompok-kelompok masyarakat dan penambahan rambu-rambu lalulintas bersama dengan dinas perhubungan.

“Memang jumlah yang meninggal dunia masih tinggi, kita berharap tahun depan ada penurunan lagi,” terangnya.

Koordinasi dengan intansi terkait untuk melaksanakan himbauan atau sosialisasi kepada warga masyarakat disemua lapisan, terus dilakukan tetapi kecelakaan menurutnya  masih saja terjadi karena human eror.

“Penyebab kecelakaan itu kebanyakan disebabkan karena ulah pengendara itu sendiri yang tidak patuh pada aturan lalulintas, sudah tahu jalan tikungan tajam tetapi masih saja dengan kecepatan tinggi,  mengenai kondisi jalan untuk jalintim OKI kondisinya cukup baik, begitu juga jalan alternatif Jakabaring- Kayuagung juga cukup baik,” ujarnya.

Kebanyakan kasus lakalantas terjadi wilayah Jalan lintas timur (jalintim), terutama pada titik rawan kecelakaan seperti tikungan tajam dan beberapa ruas jalan kabupaten OKI,  di Jalintim OKI terdapat 5 titik tikungan tajam.

“Untuk mengurangi jumlah lakalantas tersebut, kita rutin melakukan penertiban untuk mengantisipasi tingkat laka dan pelanggaran. Selain razia, Satlantas juga memasang peringatan melalui spanduk dan baliho di daerah tertentu,” jelasnya.

Masih tingginya jumlah kasus Lakalantas disebabkan rendahnya kesadaran warga dalam berdisipin di jalan raya. dari jumlah korban jiwa itu ternyata 35 % diantara korban merupakan orang yang masih berusia anak sekolah atau usia produktif.

“Kenyataan inilah yang perlu adanya pemberitahuan atau pendidikan berlalu lintas pada anak usia dini, sesuai intruksi kapolri pendidikan lalulintas masuk kurikulum pendidikan,” jelasnya.

 

TEKS     : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *