Hutan Pagaralam Rawan Kebakaran

 

Ilst. Hutan Lindung

Ilustrasi Hutan | Ist

PAGARALAM – Untuk menjaga kelestarian hutan lindung agar selalu terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan dalam menghadapi musim kemarau, kepada segenap lapisan masyarakat agar senantiasa siaga terhadap kebakaran hutan. Terutama upaya perluasana lahan perkebunanan dengan cara membakar.

 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pagaralam Herawadi SSos menegaskan, tingginya angka kebakaran hutan disejumlah daerah di Indonesia hingga membuat jajarannya mesti meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah hutan yang ada. Kota Pagaralam memiliki sekitar 24.000 hektare hutan lindung, tentunya cukup rawan terjadi kebakaran hutan.

 

“Apalagi kondisi yang ada, sebagian besar berbatasan dengan pemukiman dan lahan warga,” katanya, kemarin (28/9).

 

Ia mengatakan, hingga saat ini hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan disejumlah daerah. Apalagi, saat ini memasuki musim kemarau tentunya mesti mewaspadai berbagai dampak yang dapat memicu terjadi kebakaran hutan.

“Sesuai dengan hasil pemantauan terdapat sekitar puluhan titik api (hotspot), diantaranya ada lima titik api di Kelurahan Atungbungsu dan enam titik nya lagi di Kelurahan Lubuk Buntak, Kecamatan Dempo Selatan,” terangnya.

Kendati demikian lanjutnya, guna menekana angka kebakaran hutan perlu ditingkatkan pengawasan terhadap aksi pembakaran lahan terutama perluasan lahan perkebunan dengan cara membakar.

“Dihimbau agar warga untuk menghentikan upaya perluasan lahan perkebunan dengan cara membakar, mengingat hal itu dapat berdampak pada kerusakan ekosistem yang ada berikut membuat kabut asap,” sebutnya.

Selain itu katanya, ada sejumlah daerah yang paling rawan kebakaran hutan seperti di Dempo Selatan, Dempo Tengah dan kawasan hutan lindung Gunung Dempo.

“Masalah penanganan kebakaran hutan sudah dilakukan dengan menyebar petugas pemantau hutan termasuk meningkatkan penghentikan upaya memperluas areal perkebunan dengan cara membakar,” jelasnya.

Ditambahkan Kabid Penanggualangan Bencana BPBD setempat Herdensi SE, memang ada puluhan titik api di Pagaralam seperti empat titik di Kelurahan Kacediwe, dan lima titik di Kelurahan Pelangkenidai, Kecamatan Dempo Tengah.

“Ada puluhan titik api (hotspot) telah muncul di kawasan hutan perbatasan Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan,” ujarnya.

Sejumlah titik api dimaksud lanjutnya, mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibeberapa daerah tersebut.

“Tahun 2012 lalu, ada puluhan titik api (hotspot) melanda kawasan Kecamatan Kota Agung, dan Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat.  Sedangkan kedua daerah tersebut berbatasan dengan Kota Pagaralam,” jelasnya seraya berkata kebakaran lahan dan hutan tersebut sebagai bentuk terjadinya musim kemarau yang melanda wilayah Sumsel, dengan angin yang bersifat kering.

Ia mengatakan, jika terjadi kebakaran hutan akan meluas, serta terjadinya pertumbuhan titik api (hotspot) pun cukup tinggi dengan angin yang bersifat kering dan suhu udara mencapai 35 derajat celcius, terutama untuk kawasan kota.

“Ada lima daerah paling rawan kebakaran hutan atau kawasan hotspot, semuanya berada di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Lahat yakni Kecamatan Dempo Selatan, dan beberapa titik di Kecamatan Dempo Tengah. Adapun titik api dimaksud, diantaranya kawasan Lematang, Meringgang, Lubuk Buntak, Muara tenang dan Atung Bungsu,” jelasnya seraya menambahkan kawasan ini masih cukup banyak terdapat hutan belukar atau lahan tidur mencapai ratusan hektare.

 

TEKS  : ANTONI STEFEN

EDITOR : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *