Polda Sumsel Grebek Bank Sumsel Babel

Ilustrasi BSB | Dok KS

Ilustrasi BSB | Dok KS

PALEMBANG – Direktorat reserse kriminal khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel) mendatangi Bank Sumsel Babel (BSB) Jakabaring Palembang, Kamis (25/9) sekitar pukul 11.00 WIB.

Unit I, Subdit II Rombongan yang langsung dipimpin oleh Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Sumsel, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herwansyah Saidi, ini menyita dokumen tabungan pinjaman milik PT Campang Tiga (PT CT), yang dimiliki oleh Mularis Djahri.

Pantauan di lapangan, rombongan nampak mengenakan rompi yang bagian belakangnya bertuliskan Pismondev yang kepanjangan dari Piskal Moneter dan Devisa. Begitu tiba, rombongan langsung menuju lift untuk ke lantai atas. Sontak, beberapa pengunjung BSB kaget melihat kedatangan rombongan Polri ini, yang terlihat membawa keranjang dan printer.

Setiba di dalam kantor, rombongan langsung naik ke lantai atas dengan menggunakan lift. Dari sana, keberadaan rombongan menghilang dan tidak bisa diliput oleh media. Hingga pukul 19.00 WIB, rombongan tersebut belum juga terlihat keluar dari kantor.

Informasi yang dihimpun, Subdit II Ditreskrimsus Polda Sumsel menyita dokumen tabungan beratasnamakan PT CT. Dokumen peminjaman uang yang diduga fiktif itu disahkan oleh dua karyawan BSB, yang diketahui berinisial HT dan FI. Akibatnya, kucuran dana pinjaman tetap bisa dilakukan hingga bertotal Rp 480 miliar. Mularis sendiri juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Modus yang dilakukan ketiga orang ini adalah dengan cara pemberian fasilitas kepada PT CT dengan melakukan pencatatan palsu dalam pembukuan. Ditengarai, dengan bantuan dua karyawan BSB, PT CT bisa mendapatkan pinjaman hingga senilai Rp 480 miliar. Kedua karyawan BSB dinilai sudah menyalahi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan pihak bank.

Menanggapi penggeledahan ini, M Adil selaku Direktur Utama BSB menyebutkan, memang ada penggeledahan yang dilakukan Polda Sumsel. Penggeledahan berkaitan dengan dugaan dokumen pinjaman uang fiktif yang dilakukan oleh pemilik PT CT.

Namun, Adil tidak menyebut nominal berapa banyak uang yang sudah dicairkan sebagai pinjaman untuk PT CT.

“Yang disita Polda Sumsel adalah dokumen debitur BSB, yakni PT CT. Mereka sudah menunjukan surat izin penggeledahan dan kita terima dengan koperatif,” kata Adil.

Selain dikabarkan akan menyita dokumen, lanjut Adil, Polda Sumsel akan melakukan validasi dokumen dengan dokumen asli yang dipegang pihak BSB. Data yang ada perbedaan dengan dokumen yang dimiliki Polda Sumsel akan disita.

Ketika disinggung keterlibatan orang dalam, Adil mengaku masih belum mengetahuinya. Yang ia tahu hanyalah sebatas penyitaan dokumen salah satu debiturnya saja. Ia menyerahkan seluruhnya kepada Polda Sumsel yang menyidiki kasus ini.

Masih kata Adil, PT CT merupakan salah satu debitur tetap di BSB sejak periode 2006. Ia membayar kredit pinjaman lancar tanpa pernah menunggak.

Namun, ia masih belum berani menjelaskan kronologis bagaiamana bisa diterimanya permohonan pinjaman dari PT CT.

“Selama peggeledahan, kita tetap membuka operasi layanan. Jadi, penggeledahan tidak menganggu operasi bank,” kata Adil.

 

TEKS   : OSCAR RYZAL

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *