Empat Ton Garam Ditebar Dilangit Sumsel

Ilustrasi Penaburan Garam diangakasa | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memulai Tehnik Modifikasi Cuaca (TMC) di Sumatera Selatan (Sumsel).

Minggu (21/9), menggunakan pesawat jenis Hercules milik TNI AU, BNPB dan BPPT menebar sebanyak empat ton garam di langit Sumsel. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yulizar Dinoto menyebut, garam itu ditebar guna membuat hujan buatan.

“Pesawat Hercules diperbantukan BNPB ke Sumsel untuk TMC. Tim lapangan akan menebar garam ke daerah, yang masih memiliki titik api besar tapi disesuaikan dengan pergerakkan awan. Tanpa ada colunimbus atau awan penghujan, hal itu sulit dilakukan,” kata Yulizar yang dibincangi di Posko Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, Minggu (21/9).

Ia menyebut, rekayasa cuaca memang tak mudah dilakukan di tengah kabut asap yang tebal. Lapisan asap menghambat pertumbuhan awan. Uap air di atmosfer diserap oleh butir-butir asap sehingga sulit membentuk awan. Adapun cara kerja TMC ialah, dengan melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat menyerap air. Sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

“Pesawat Hercules berdaya angkut hingga 20 ton garam, 12 kru dan tiga penumpang. Sejauh ini perhatian BNPB sangat besar. Mereka menggelontorkan dana yang tidak sedikit, yakni Rp 12,2 milyar kepada BPBD Sumsel untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan, dan menyiapkan Rp16 milyar tambahan sesuai kebutuhan yang ada termasuk TMC hingga akhir September nanti,” terang Yulizar.

Selain itu, BNPB juga mengoperasikan helikopter Sikorsky untuk membantu MI-8 dan Bolkaw yang telah lebih dulu memadamkan titik api. Sikorsy, helikopter berwarna oranye ini akan fokus memadamkan titip api terbesar seperti di sekitar Ogan Komering Ilir (OKI). “Tapi sekarang perlahan sudah menurun, terdata sisa 21 titik api dari sebelumnya bisa mencapai 80-an titik,” ujarnya.

Berdasar data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA) dari Kementerian Kehutanan atau Kemenhut, tercatat sudah 322 hektar hutan di Sumsel habis dilalap jago merah oleh ulah oknum perusahaan dan masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Dari 322,25 hektar hutan Sumsel yang terbakar baru 146,2 hektar yang dapat dipadamkan.

Sementara untuk lahan non hutan atau areal perkebunan, sudah 615,05 hektar yang terbakar. Tapi baru mencapai 274,95 hektar yang berhasil ditanggulangi. Baik kebakaran hutan maupun areal non hutan, tercatat sudah 1.791 titik api selama tahun 2014. Mulai dari 1 Januari hingga 18 September. Tren kebakaran memang marak sejak Juli dan memasuki puncak di September.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel, Mukti Sulaiman mengatakan, langkah yang dilakukan ini adalah upaya yang perlu dilakukan karena menghilangkan asap sudah menjadi tugas dari Pemerintah melalui BPBD.

“Dalam hitungan hari lagi kan MTQ Internasional segera berlangsung. Jadi secara bersama-sama kami terus upayakan mengatasi hotspot dengan terus mengebom wilayah yang masih terdapat hotspot-nya,” tukasnya.

 

TEKS           : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *