100 Hektar Hutan Terbakar, Terpantau ada 148 Hotspot

kebakaran lahan di Ogan Ilir.

Petugas Sedang Melakukan Pemadaan kebakaran lahan | Dok KS

MUARAENIM – Kebakaran hutan dan lahan di Sumsel, masih terus terjadi. Di Muaraenim tepatnya di Desa Teluk Limau, Kecamatan Gelumbang, sedikitnya 100 hektar hutan dan sembilan hektar hutan produksi konservasi sawit milik salah satu perusahaan perkebunan swasta.

Saat ini kata Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Muaraenim, Rustam Effendi melalui Kepala Satuan (Kasat) Polisi Hutan (Polhut), Yuli Surya Darma, pasukan Manggala Agni dari Kementrian Kehutanan (Kemenhut) masih terus berjuang untuk memadamkan api.

“Jika pembakaran lahan dan hutan, untuk membuka perkebunan masih dilakukan bukan tidak mungkin kebakaran dan titik api di Muaraenim akan terus bertambah. Apalagi, sekarang sudah memasuki musim kemarau,” kata Yuli yang dibincangi di ruang kerjanya, Rabu (17/9).

Ia menjelaskan, hasil pantauan satelit NOAA 18 dan Terra Aqua, sejak awal September lalu sampai saat ini sudah terpantau 148 titik api di wilayah Muaraenim. Titik api itu terangnya, tersebar di sejumlah kecamatan.

Diantaranya Kecamatan Lubai, Lubai Ulu, Sungai Rotan, Muara Belida, Lembak, Rambang Dangku, Rambang, Gunung Megang, Ujan Mas, Kota Muaraenim, Lawang Kidul, Tanjung Agung dan Semendo Darat Ulu. “Di Lubai dan Gunung Megang, yang terbanyak terpantau titik api nya,” bebernya.

Banyaknya titik api itu sebut Yuli, sebagian besar disebabkan oleh pembukaan lahan atau hutan untuk berkebun yang dilakukan dengan cara pembakaran. Kondisi ini, sangat disayangkannya.

Padahal kata dia, pemerintah sudah melarang untuk dilakukan pembakaran hutan atau lahan seperti diatur pada Undang – Undang (UU) No 41 tahun 1999. Dalam UU itu, dikenakan sanksi 15 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar bagi pelaku pembakaran.

UU itu, dikuatkan dengan UU Nomor 18 tahun 2004 dan Permentan No 26 tahun 2007. “Bayangkan saja, sanksi nya berat sekali. Tetapi nyatanya, aktivitas pembakaran lahan, masih tetap terjadi,” terang Yuli.

Dishut sambungnya, akan terus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk tidak membakar membuka areal lahan untuk perkebunan dengan cara membakar. Sebab bisa menimbulkan terjadinya kebakaran lahan atau hutan.

Jika itu terjadi, maka kabut asap akan semakin tebal dan udara menjadi tercemar. “Ini bisa menimbulkan penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan penyakit lainnya,” tukasnya.

 

TEKS            : SISWANTO

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *