Akibat Limbah Batubara PTBA, Warga Keluhkan Debu dan Gatal-gatal

Debu Batu Bara yang berterbangan saat kapal sedang memuat Batu Bara di salah satu Dermaga di Sungai Musi. Foto ; Bagus Kurniawan

Debu Batu Bara yang berterbangan saat kapal sedang memuat Batu Bara di salah satu Dermaga di Sungai Musi. Foto ; Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Warga yang berada di sekitar Stasiun Kereta Api (KA) Kertapati, Palembang, mengeluhkan debu yang ditimbulkan akibat pengolahan dermaga batubara milik PT Bukit Asam (BA). Informasi yang dihimpun Kabar Sumatera, akibat limbah dari PT BA itu, banyak warga di kawasan sekitar dermaga batubara yang mengalami gangguan saluran pernafasan dan batuk-batuk.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku, debu dari batubara  sering berhamburan di pemukiman warga, sehingga menyebabkan gatal-gatal dan gangguan saluran pernapasan serta batuk-batuk.

“Sudah banyak anak-anak yang kena penyakit gatal-gatal, batuk dan penyakit lainnya akibat debu batubara. Tapi PT BA selalu cuek, tidak pernah memperdulikan warga sekitar,” kata wanita tersebut ketika dibincangi, Kamis (4/9).

Ibu dua anak ini berharap, PT BA dapat lebih memperhatikan kesehatan warga sekitar. Karena sebutnya, selama ini tidak pernah ada itikad baik dari PT BA untuk warga sekitar dermaga batubara di Kertapati. Padahal penyakit yang diderita warga, disebabkan debu dari pengolahan batubara milik PT BA. “Mereka selama ini hanya tutup mata. Tidak pernah memikirkan keselamatan warga. Kami tidak tahu mau mengadu kepada siapa,” keluhnya.

Hal senada disampaikan salah seorang pegawai PT BA yang juga warga sekitar. Ia menyebut, setiap pukul 20.00 WIB, ada aktivitas pengangkutan batubara di Dermaga Kertapati. Saat itu juga jelasnya, warga akan menghisap debu dari sisa batubara karena debu yang berterbangan.

“Kami pernah usulkan agar debu tersebut disiram setiap hari, sehingga debu yang berhamburan di pemukiman warga tidak terlalu banyak. Tapi hal itu tidak dilakukan, mereka hanya menyiram seminggu sekali,” jelasnya.

Ia mengaku, debu yang paling banyak berhamburan di pemukiman warga ketika malam hari. Apalagi ketika angin kencang dan hujan. Debu masuk ke rumah-rumah warga. “Bahkan, yang paling parah, air didekat dermaga batubara PT BA menghitam dan tidak bisa di gunakan warga sekitar. Kami tidak bisa berbuat banyak, karena PT BA ada yang memegang (preman),” akunya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Palembang, Harnojoyo mengaku akan meminta PT BA untuk lebih memperhatikan pengelolaan limbahnya. Selain itu, perusahaan plat merah tersebut juga diminta berkontribusi untuk lingkungan disekitar melalui dana corporate social responsibility (CSR).

“Semua perusahaan yang berada di pinggiran sungai,  kami harap benar-benar memperhatikan pengolahan limbahnya. Karena hal tersebut berdampak terhadap kondisi lingkungan. Warga sekitar lebih diperhatikan,” kata Harno yang dibincangi usai meninjau dermaga PT BA di Kertapati, kemarin.

Menurut Harnojoyo,  pemkot akan terus melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di pinggiran Sungai Musi. Jangan sampai mereka, mencemari Sungai Musi karena air sungai tersebut menjadi bahan baku air bersih PDAM Tirta Musi.  “Kalau sudah tercemar, siapa yang harus bertanggungjawab. Jadi kami berjanji akan terus melakukan pengawasan,” tegasnya.

General Manager (GM) Dermaga Batubara Kertapati, Palembang, Ahmad Saichu membantah, jika sudah mencemari lingkungan sekitar dermaga. Menurutnya,  pihaknya terus berupaya untuk mengurangi debu yang dihasilkan pengolahan.  “Kami konsentrasi dengan debu. Mungkin karena musim kemarau. Jadi debu semakin banyak,” tukasnya.

 

TEKS          : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com