Penumpang BRT Beralih ke Angkot

Ilustrasi Halte Trans Musi | Ist

Ilustrasi Halte Trans Musi | Iwan Cheristian

PALEMBANG – Walaupun sudah dijamin Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, soal gaji karyawan yang akan dibayarkan tepat waktu. Namun nyatanya, operasional Bus Rapid Transit (BRT) Transmusi, belum juga berjalan normal.

Hal itu dikeluhkan penumpang setia BRT Transmusi. Dewi (43), salah satu penumpang Transmusi yang dibincangi, Minggu (31/8) mengaku sangat kecewa dengan minimnya BRT Transmusi, yang beroperasional. Bahkan, sudah dua hari belakangan Transmusi tidak terlihat beroperasi. “Sudah sering Transmusi tidak jalan. Biasanya ada, terus tetapi sudah dua hari ini tidak terlihat,” kata ibu rumah tangga ini.

Wanita yang mengaku tinggal di Prumnas ini menyebut, dalam melakukan aktivitasnya, ia biasa menggunakan Transmusi, misalnya ke Pasar dan lainnya. Tetapi karena Transmusi tidak ada, ia terpaksa gunakan angkutan kota (angkot) atau bus kota.  “Jujur saja, saya senang naik Transmusi, karena lebih nyaman. Karena tidak ada, terpaksa gunakan angkot atau bus kota,” keluhnya.

Sementara itu, penumpang setia BRT Transmusi lainnya, Vian (23) mengatakan, selain BRT Transmusi jarang operasional, kodisi halte transmusi juga banyak yang rusak akibat tidak ada pemeliharaan.

“Seperti dindingnya terkelupas, bangku tunggunya rusak, dinding penuh coretan dan lainnya, padahal BRT Transmusi itu sangat membatu masyarakat, karena aman dan nyaman. Berbeda dengan angkot maupun bus kota,” ucapnya.

Mahasiswa semester akhir di Universitas Sriwijaya (Unsri) ini berharap, Transmusi cepat normal kembali dan jumlah busnya ditambah sehingga lebih banyak penumpang yang terangkut.  “Untuk apa haltenya banyak, kalau hanya dibiarkan dan tidak dirawat. Kasihan juga dengan penumpang setianya yang terpaksa naik angkutan umum yang tidak nyaman,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, Manajer Transmusi, Abdul Kadir mengatakan, pihaknya sudah pasrah dengan kondisi perusahaan. Tapi sebutnya, bukan berarti mereka hanya diam saja. Menurutnya,  manajemen berusaha keras untuk memperbaiki bus transmusi yang rusak.

“Jumlah BRT yang operasional hanya 53 armada. Padahal kami memiliki 150 unit, namun ada 80 armada yang rusak. Saat ini ada sebagian yang sedang diperbaiki, dananya diambil dari sebagian penghasilan bus yang operasional,” jelasnya.

Menurut Kadir, untuk dana penyertaan modal dari Pemkot Palembang Rp 38 miliar yang diperuntukan untuk PT SP2J,  belum jelas apakah dana tersebut semuanya untuk Transmusi atau anak perusahaan PT SP2J  lainnya. “Yang jelas dari dana tersebut tidak tercantum untuk gaji sopir dan pramugara, sekarang sudah banyak sopir yang tidak bekerja. Akibatnya, bus semakin minim beroperasi,” bebernya.

Kadir berharap, sopir maupun pramuga yang tidak mau lagi bekerja segera membuat surat pengunduran diri.  “Dari pada masuk jarang, kami minta mereka mundur kalau memang tidak mau bekerja lagi,” tukasnya.

 

TEKS       : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR       : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *