Pendidikan Karakter Bukan di Mulut

Ilustrasi | Bagus Kurniawan

Ilustrasi | Bagus Kurniawan

Sekolah memegang peranan penting dalam memberikan pendidikan kepada anak. Sekolah harus mengajarkan dan melatihkan nilai dalam setiap aktifitas pembelajaran. Hal ini sangat penting karena setinggi apa pun pendidikan yang ditempuh oleh seseorang, tanpa nilai yang didapatnya, maka pendidikan hanya akan memberikan pengetahuan bukan pengajaran.

Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting  dalam mempersiapkan generasi  menghadai era yang penuh dengan tantangan. Pendidikan harus mampu  menyelengarakan proses pembekalan pengetahuan, penanaman nilai, pembentukan sikap dan karakter, pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuhkembangkan potensi akal, jasmani dan rohani yang optimal, seimbang  dan sesuai dengan tuntuan zaman.

Menurut Drs. H. Gede Mendera, MT, Kepala SMA Negeri 3 Palembang ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh sekolah, baik itu mengenai proses belajar mengajar, maupun pendalaman nilai-nilai kehidupan. Dan semua itu bermula dari Kepala Sekolah dan guru itu sendiri.

“Menjadi seorang guru, harus memiliki keikhlasan sebagai pendidik. Kurikulum 2013 mensyaratkan orientasi pencapaian SKL  yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan dengan melahirkan lulusan yang memiliki IMTAK, inovasi yg tinggi, kreatif, produktif dan keseimbangan sikap dari pengetahunan dan keteramnpilan itu sendiri.”

 

Bapak tiga anak ini menambahkan, guru harus mampu menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa dalam rangka membentuk pribadi yang unggul. Tidak hanya cerdas secara intelektual tapi memiliki kepribadian santun dan menyantuni.

“Guru itu harus membentuk pribadi yang unggul bagi siswa. Yang dibentuk itu adalah pribadinya, melalui penanaman nilai-nilai karakter. Pendidikan karakter itu tidak hanya diajarkan tapi juga disampaikan melalui keteladanan, pembiasaan dan aktivitas. Contoh, belajar disiplin, yang diajarkan bukan hanya pengertian dari disiplin itu sendiri, tapi bagaiman mendisiplinkan diri. Bisa juga nilai kejujuran, yang diajarkan itu bagaimana bersikap jujur, baik itu kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,” ujarnya.

Sebagaimana dalam kurikulum 2013 itu terdapat tingkatan kompetensi. Pertama, Ki-1 itu adalah sikap spiritual. Artinya bagaimana kita harus bisa bersyukur. Kedua Ki-2, sikap sosial. Bagaimana siswa membangun komunikasi dengan masyarakat. Membvangun gotong royong dan kebersamaan. Ketiga, Pengetahuan. Siswa harus memilik pengetahuan. Dan keempat adalah keterampilan.  Artinya, peran guru bukan hanya sebatas mengajar tapi juga mendidik melatih, membimbing, mengarahkan agar siswa dapat menjadi generasi yang bermoral.

Gede mengharapkan agar pendidikan kedepan bisa lebih baik lagi, guru harus mengatahui Tugas Pokok dan Fungsinya (Tupoksi) sebagai guru yang tidak hanya sekedar mengajar tapi juga mendidik, danmenanamkan nilai-nilai karakter. Tidaklah lebih penting subtansi keilmuan yang dia ajarkan dibanding dengan dia mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Setidaknya ada beberapa guru yang menjadi contoh, tauladan, dan panutan bagi siswa-siswinya.

Sementara itu ditempat yang berbeda, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang, Dr. Kasinyo, M.Pd.I mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah upaya mendidik peserta didik dengan menanamkan nilai-nilai moral (karakter) yang baik kepada generasi penerus bangsa. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang tidak hanya mengutamakan kualitas ilmu pengetahuan tetapi juga mengutamakan kualitas moral peserta didik yang didukung oleh skill, sehingga dapat berkompetensi dengan negara lainnya. Untuk menjalankan pendidikan karakter di Indonesia, tentunya Indonesia perlu mengganti kurikulum pendidikan saat ini menjadi kurikulum pendidikan karakter, itu artinya sistem yang dijalankan dalam dunia pendidikan pun harus dirubah, sehingga sesuai dan sejalan dengan kurikulum pendidikan karakter yang akan diterapkan.

Membangun pendidikan karakter kepada peserta didik bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan beberapa faktor yang dapat mendukung terealisasinya pendidikan. Faktor pertama adalah tenaga pengajar (guru). Guru merupakan teladan bagi siswa-siswinya, sehingga cara mengajar yang paling efektif adalah dengan memberikan contoh nyata berupa tindakan. Oleh karena itu, hendaknya seseorang yang menjadi guru bukanlah orang yang sembarangan. Pelatihan dan diklat mengenai pendidikan karakter wajib diikuti seluruh guru tanpa terkecuali.

Faktor kedua adalah sistem pendidikan yang diterapkan saat ini. Sistem yang penulis maksud di sini, yaitu seperti adanya sistem ujian nasional dengan standar nilai yang telah ditetapkan, sistem rangking, kelas-kelas unggul dan sekolah favorit. pelaksanaan ujian nasional dengan standar nilai yang telah ditentukan sebagai penentu kelulusan akan berdampak negatif bagi siswa, bahkan guru. Siswa dan guru sama-sama akan merasa tertekan menjelang ujian nasional. Pada ujian nasional juga banyak kecurangan terjadi, parahnya lagi guru yang seharusnya menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai moral menjadi orang pertama yang merusaknya dengan memberikan bocoran kunci jawaban kepada siswa, tanpa mempertimbangkan dampaknya, yang terpenting siswanya dapat lulus ujian.**

 

Litbang KS




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *