Petumbuhan UMKM Handicrafts di Sumsel Lamban

Seorang warga binaan Lapas khusus wanita sedang sibuk membuat kain songket khas Palembang dengan alat tenun di Lapas Khusu Wanita,Jl. Merdeka, Palembang. beberapa waktu lalu. Foto ; Bagus Ku

Ilustrasi Pembuatan Songket | Foto ; Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak dibidang handicrafts atau kerajinan tangan di Sumsel, terbilang lamban. Setiap tahunnya, pertumbuhan UMKM tersebut kurang dari dua persen.

Artinya kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Permana, setiap tahun di Sumsel hanya bertambah sekitar 200 UMKM yang bergerak dibidang handicrafts.

“Itu tidak sesuai dengan target, kita menargetkan setiap tahun ada 300 UMKM yang bergerak di handicrafts,” kata Permana yang dibincangi usai membuka pelatihan kerajinan khas Sumsel berbahan gypsum di Wisma 45, Palembang, Selasa (26/8).

Permana menyebut  di Sumsel saat ini, hanya ada 3.334 UMKM yang bergerak dibidang  handicrafts. Jumlah itu menurutnya terbilang minim. Lambannya pertumbuhan UMKM handicrafts ini terang Permana, disebabkan banyak faktor.

Misalnya, pengerajin yang kurang di fasilitasi, ketidak tahuan dalam pengajuan permodalan, dan minat masyarakat belum meluas. Karenanya Disperindag bekerjasama dengan Sanggar Keong Emas, Medan, melakukan pelatihan kepada pengrajin di Sumsel, untuk pembuatan kerajinan menggunakan bahan gypsum.

“Di Sumsel, ketersediaan gypsum cukup banyak. Artinya, kita tidak kekurangan bahan baku namun Sumber Daya Manusia (SDM) nya yang belum maksimal. Dengan bertambahnya kerajinan itu, diharapkan Sumsel akan menjadi provinsi dengan keanekaragaman handicraft,” terang Permana.

Pelatihan tersebut digelar sejak 26-30 Agustus, diikuti pengrajin dari sejumlah kabupaten/kota di Sumsel seperti Musi Banyuasin (Muba), Prabumulih, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Ogan Ilir (OI), Muaraenim, Banyuasin dan lainnya.

Menurut Permana, nantinya setelah mengikuti pelatihan tersebut, para pengerajin akan diarahkan untuk untuk mengajukan kredit tanpa agunan di Bank Perkreditan Rakyat (BPR)  atau Bank Sumsel Babel (BSB).

“Kami juga mengarahkan mereka, untuk mengajukan proposal ke APINDO Sumsel. Karena APINDO sudah menyiapkan dana untuk pelatihan semua jenis kerajinan, mulai dari alat mesin pertanian dan kerajinan lainnya,” tukasnya.

 

TEKS         : IMAM MAHFUZ

EDITOR        : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *