Antrean Solar di Empat Lawang Masih Normal

Salah seorang petugas SPBU saat melayani pengendara untuk membeli Solar bersubsidi

Salah seorang petugas SPBU saat melayani pengendara untuk membeli Solar bersubsidi | Dok KS

EMPAT LAWANG – Meskipun kekurangan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar, juga terjadi di Kabupaten Empat Lawang, namun sejauh ini antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Empat Lawang, masih normal.

Pantauan Kabar Sumatera di SPBU 24.314.46 yang berada di Jalan Lintas Tengah (Jalinteng), Kelurahan Tanjung Kupang, Kecamatan Tebing Tinggi,  masih normal. Di SPBU tersebut, tidak terjadi antrian kendaraan.

Sejumlah kendaraan besar seperti fuso, bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan jenis truk, terlihat melakukan pengisian di SPBU. Namun tidak ada lonjakan kendaraan, untuk mengisi BBM. Hal yang saja juga terlihat untuk kendaraan, yang mengisi BBM jenis premium atau pertamax.

Di Jalinteng sendiri, hanya ada satu unit SPBU. Minimnya pengisian, diduga karena jarak tempuh dari SPBU wilayah Kabupaten Lahat dan Kota Lubuk Linggau hanya berjarak sekitar 150 kilometer.

“Kita biasa ngisi BBM di Lahat atau Lubuklinggau, pak. Ini kebetulan saja ngisi BBM disini karena ada pembatasan,”  kata salah seorang sopir bus yang dibincangi saat hendak mengisi BBM kendaraanya di SPBU 24.314.46 , Selasa (26/8).

Sementara itu,  pemilik SPBU 24.314.46 Tebing Tinggi, Hj Sopiah mengaku BBM jenis Solar memang kurang sejak satu minggu yang lalu. Hal itu karena, pengiriman solar dari Lahat ke SPBU Tebing Tinggi dikurangi dari sebelumnya oleh Pertamina.

“Sebelumnya di hari-hari biasa dikirim 15 ton, kalau Sabtu bisa 20 ton karena Minggu tidak dikirim. Sekarang di hari-hari biasa hanya 10-13 ton, kalau Sabtu baru mencapai 13-15 ton. Kalau antrean solar disini normal, tidak terlalu panjang,” terang Sopiah.

Untuk mencukupi kebutuhan konsumen, pihaknya menjatahi kendaraan-kendaraan yang mengisi solar. “Bus dijatah Rp 300-350 ribu, truk kecil Rp 100-150 ribu dan truk besar (fuso,red) dijatah Rp150-200 ribu. Hal ini kami lakukan untuk mengantisipasi solar agar jangan langsung habis,” tukasnya.

 

TEKS          : SAUKANI

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *