Pungutan Liar Ala Kemenag, Diduga Oknum Gelar Pungli Sertifikasi Guru

ilustrasi

ilustrasi | ist

PALEMBANG – Program sertifikasi guru honor 2014 di lingkungan Kementerian Agama Kota Palembang diwarnai dugaan pungutan liar (Pungli) oleh oknum Kemenag Kota Palembang. Ini terungkap usai puluhan massa yang tergabung dalam Front Aliansi Anti Korupsi Indonesia (FAKSI) Sumatera Selatan berunjuk rasa ke Kantor Wilayah Kemenag Sumsel, Senin (25/8).

Hasbi Nusantara, Koordinator Aksi membeberkan, bahwa salah seorang oknum dari Kemenag Kota Palembang telah melakukan Pungli untuk biaya kelulusan peserta yang mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sebesar Rp 400 ribu. Jauh sebelumnya, para peserta juga diminta untuk menyetor uang Rp 50 ribu kepada oknum tersebut.

“Patut diduga pungutan ini tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Bahkan, informasi yang kami terima uang itu digunakan untuk membiayai keberangkatan para pejabat di lingkungan Kemenag Kota Palembang yang ikut serta pada pelaksanaan PLPG ke Semarang,” jelas Hasbi.

Dalam kesempatan ini, FAKSI mendesak kepada Kakanwil Kemenag Sumsel untuk segera memecat atau mengganti Kakan Kemenag Kota Palembang, akibat terindikasi melakukan Pungli pada program sertifikasi guru 2014 ini.

“Kita juga meminta Kakanwil Kemenag Sumsel untuk memberikan pendidikan dan arahan yang baik terhadap Kakan Kemenag kabupaten dan kota se-Sumsel,” pintanya.

Terpisah, Kakan Kemenag Kota Palembang, Fajri Zabidi, membantah keras adanya dugaan Pungli yang dilakukan anak buahnya. Menurut dia, dana sebanyak Rp 400 ribu tersebut merupakan atas inisiatif dari seluruh peserta untuk kebutuhan mereka selama mengikuti program PLPG di IAIN Wali Songo Semarang.

“Memang ada 151 guru honor dari tingkat SD/SMP/SMA dan madrasah yang mengikuti PLPG ke Semarang. Rencananya, mereka di sana selama 10 hari. Nah, untuk uang Rp 400 ribu tersebut atas kesepakatan mereka sendiri, kita tidak tahu menahu soal itu, apalagi mau memungut dari mereka,” ungkap Fajri.

Sementara itu, Kasubbag Informasi dan Humas, H Saefudin Latief menjelaskan, pihaknya akan mendalami laporan para pengunjuk rasa. Pihaknya juga akan meminta keterangan dari para peserta PLPG usai pulang dari Semarang.

“Kita tetap menindaklanjuti laporan pengunjuk rasa. Nanti akan kita kumpulkan informasi yang ada, karena kita juga mempunyai tim kode etik. Setelah itulah baru kita ambil kesimpulan untuk selanjutnya diputuskan,” jelas Saefudin

Berharap Usut Tuntas

Puluhan massa FAKSI Sumsel juga mendatangi Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel, Senin (25/8). Mereka menuntut pihak kepolisian membentuk tim untuk menginvestigasi dugaan Pungli dalam Program Pelatihan Sertifikasi Guru di Semarang beberapa waktu yang lalu.

Mereka yang berorasi terdiri dari puluhan massa. Masing-masing dari mereka membawa spanduk kertas yang intinya meminta Polda Sumsel menyelidiki dugaan pungli di Kemenag Palembang. Tak ayal, orasi ini sempat membuat arus lalu lintas terganggu karena pengguna jalan ingin melihat apa yang tengah terjadi.

“Sekitar 160 guru honor yang akan ikut program itu dimintai uang pendaftaran Rp 50 ribu. Juga mereka kemudian dimintai kembali Rp 400 ribu per orang,” kata Hasbi.

Untuk itu, dengan adanya laporan pungli tersebut, Hasbi berharap Kapolda Sumsel mengusutnya secara tuntas. ia berharap, Kapolda Sumsel memangil Alfajri selaku Kepala Kemenag Palembang dan Izzy Teguh selaku Kepala Bagian PAIS.

Massa diterima PAUR Monitor Humas Polda Sumsel. Kompol Djumali. Djumali menjelaskan jika kasus yang dilaporkan massa merupakan menyangkut person, diharapakan perwakilan massa dapat melapor ke SPKT Polda Sumsel.

“Karena ini masuk dalam kategori person, maka masuk dalam tidak pidana umum. Silahkan buat laporan agar bisa diproses,” kata Djumali.

Menanggapi ini, Izzy selaku Kasi PAIS Kemenag Palembang membantah tuduhan para orator. Menurutnya, Kemenag Palembang tidak pernah meminta biaya kepada guru honor yang akan berangkat ke Semarang mengikuti Program Pelatihan Sertifikasi Guru.

Biaya yang dimaksudkan para orator merupakan biaya yang sudah dimusyawarahkan sendiri oleh peserta.

“Memang, dalam program ini, biaya selama berada di Semarang ditanggung peserta. Jadi, sebelum berangkat, guru-guru honor sempat beremnbuk membahas masalah ini. Waktu itu, Kemenag Palembang tidak pernah dilinbatkan,” kata Izzy.

Terkait program ini, jelas Izzy, merupakan program dari IAIN Wali Songo yang disampaikan kepada Kemenag di seluruh Indonesia. Untuk Palembang,m ada 154 guru honor yang ikut.

Mereka akan berangkat mulai Selasa (26/8) dan akan 10 hari berada di sana.

“Jadi, isu pungli itu tidak benar. Kita dari Kemenag Palembang sama sekali tidak pernah menarik uang,” kata Izzy.

 

TEKS   : IMAM MAHFUZ/OSCAR RYZAL

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *