Tradisi “Lumpatan” Masih Diminati

- Salah satu lumpatan di pasang di DAS musi Desa Terusan Lama Tebing Tinggi. | Foto : Saukani

– Salah satu lumpatan di pasang di DAS musi Desa Terusan Lama Tebing Tinggi. | Foto : Saukani

EMPAT LAWANG – Tradisi menangkap ikan tanpa merusak lingkungan adalah tradisi masyarakat Empat Lawang. Salah satunya, membuat perangkap ikan raksasa  berbahan bambu (Lumpatan, red), dipasang di daerah alira sungai (DAS) musi ketika air surut.

Lumpatan, kini hanya dijumpai di Desa Terusan Lama Kecamatan Tebing Tinggi. Maklum, wilayah Empat Lawang sebagian besar adalah DAS musi, mencari ikan bisa menjadi mata pencaharian masayarakat.

Dibincangi Kabar Sumatera, kemarin (20/8) Sarnubi (50) tokoh masyarakat Desa Terusan Lama ini mengungkapkan, membuat lumpatan tidak mudah. Sebab harus ada ahli dan kelompok masyarakat tertentu yang sudah secara turun temurun. Biayanya? Sarnubi menyebut cukup besar bisa mencapai jutaan rupiah.

Untuk ukurang lumpatan berukuran sekitar 10 meter, membutuhkan bambu hampir 500 batang berukuran besar.  Biasanya gotong royong kelompok mencapai 20 orang, dengan ketahanannya hanya sekitar satu tahun saja. Berbeda dengan perangkap ukuran kecil atau “bubu” juga dari bambu, tapi lumpatan ukurannya bisa sebesar rumah warga.

“Butuh biaya besar, makanya harus ada kelompoknya. Hasil ikan dibagi merata anggota kelompok dan tidak jarang dibagikan juga ke masyarakat sekitar,” beber Sarnubi mengakui, saat ini ahli pembuat lumpatan tinggal beberapa orang saja.

Arahman (46) warga lainnya juga mengakui, karena lumpatan menjadi tradisi, sebelum dibentang ke sungai, maka lumpatan dilakukan ritual dahulu. Berdo’a bersama agar hasil ikan didapat lebih banyak, dan proses pencarian ikan diberkati Allah SWT. “Berdo’a bersama dulu, biasanya dilakukan diatas lumpatan,” akunya.

Sementara itu, Kades Terusan Lama, Parozi menjelaskan, secara umum pemerintah desa tidak terlibat dalam pembuatan lumpatan. Itu semua adalah tradisi positif masyarakat, dan dinilai lebih baik dibanding upaya mencari ikan dengan cara merusak lingkungan. “Anggota lumpatan sudah permanen, kalau ada orang baru mau masuk dlam pembuatan lumpatan harus izin dari anggota dan mengikuti aturannya,” jelas Parozi.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Empat Lawang Hj RR Endang melalui Kabid Kebudayaan Hartilinsi mengakui, pihaknya memberi apresiasi dan dukungan bagi masyarakat yang mau mengembangkan tradisi dan budaya. Sepanjang niatnya baik dan tidak mersak lingkungan dan ekosistem air sungai musi.

Disbudpar akan mendukung tradisi lumpatan, selain itu masih banyak sekali budaya belum tergali. Bisa saja tradisi lumpayan di masukkan kedalam pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah dan kedepannya nanti kita bisa menggundang wisata, memperkenalkan lumpatan salah satu ciri khas Empat Lawang. “Kita dukung tradisi lumpatan, nanti akan dikembangkan lagi agar sistem mencari ikan tidak merusak lingkungan dan tetap menjaga tradisi positif daerah,” tukasnya.

 

TEKS   : SAUKANI

EDITOR   : IMRON SUPRIYADI

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *