Tender Mega Proyek Monorel Diundur

Ilustrasi Monorel | Riandito.wordpress.com

Ilustrasi Monorel | Ist

PALEMBANG – Pembangunan mega proyek monorel, nampaknya bakal mundur dari rencana semula. Pasalnya, tender proyek tersebut yang awalnya direncanakan pada bulan ini harus dimundurkan sampai Oktober mendatang.

Hal itu dilakukan karena, harus menunggu keluarnya hasil tiga studi terhadap proyek monorel tersebut yakni studi multi bisnis, multi modal dan pra qualifikasi. Tiga studi tersebut, yang akan menentukan bisnis plan monorel.

Sekretaris Dishubkominfo Sumsel, Uzirman Irwandi mengatakan, progress pembangunan monorel dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II sampai ke Jakabaring ini, masih menunggu intern reportnya.

“Kalau pendahuluan itu sudah, sekarang kita tunggu intern report dan ini pun masih sementara. Kemungkinan baru bisa ada hasil diawal Oktober, karena pada minggu ketiga September ini akan dibawa rapat ke Bappenas di Jakarta,” katanya, Kamis (21/8).

Karenanya sebut Uzirman, hal tersebut berimbas pada tertundanya proses tender yang sejak awal ditargetkan Agustus ini. Karena menurutnya, memang harus selesai terlebih dahulu hasil studi tersebut oleh pihak konsultan.

“Nanti kita akan paparan dulu ke Bappenas, kemungkinan ada hasilnya diawal Oktober. Setelah dokumen itu selesai, barulah bisa dijadikan bahan-bahan kita untuk lelang dan mudah-mudahan kita bisa lakukan tender di Oktober itu juga,” terang Uzirman.

“Multi bisnis adalah studi tentang kegiatan-kegiatan yang mendukung monorel dari aspek bisnis. Karena secara umum, monorel yang merupakan transportasi massal dan bukanlah bisnis yang menguntungkan. Makanya rencananya harus dibuat Transit Oriented Development, untuk menutupi biaya operasional monorel tersebut dan untuk pengembalian modalnya,” sambungnya.

Menurutnya, hal tersebut bisa melalui gabungan kerjasama dengan swasta, ataupun perusahaan gabungan antara pemerintah dengan operator. Bisa juga melalui BUMD mengingat itu sudah termasuk level pemerintah daerah.

“Setelah itu studi multi modal yaitu keterkaitan Monorel dengan moda angkutan lainnya baik darat, air dan udara. Jadi moda angkutannya saling berhubungan dan ini yang sedang dipelajari,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakannya, setelah kedua hal tersebut dilakukan barulah menyusun rencana induk perkerataapian (RIP). “Kalau RIP ini global untuk Sumsel dan bukan hanya monorel saja melainkan yang lain juga, tapi ini wajib dilakukan dan hasilnya diperkirakan September mendatang. Setelah ketiga langkah tersebut ditempuh barulah pra Qualifikasi memasuki tender pada bulan itu juga,” imbuhnya.

Setelah proses tender nanti, lanjutnya, pemenang tender membuat Detail Enginering Design (DED) yang paling cepat selama tiga bulan. “Paling lama sekitar enam bulan, barulah pengerjaan fisik. Tapi itu bukan tugas Pemerintah Provinsi Sumsel lagi, kita sebatas tender selanjutnya sudah ke investor.  Kalau tender ini terbuka untuk umum,  meski begitu kita tetap optimis pengerjaan rampung sesuai target 2017 mendatang,” tegasnya.

Dikatakan Uzirman, pengerjaan monorel itu diprakirakan akan menghabiskan dana mencapai 550juta US Dollar, dengan jumlah pengguna mencapai 90ribu penumpang dalam setiap harinya.

“Kalau harga itu pada kisaran 1,5 dollar per penumpang atau pada angka Rp 15 ribuan. Monorel sebagai transportasi umum yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini, khususnya di Sumsel karena berdasarkan penelitian yang ada Kota Palembang akan mengalami macet total pada 2019 mendatang. Makanya ini segera dilakukan,” tukasnya.

 

TEKS           : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *