Rencana Kenaikan Elpiji 12 Kg Disikapi Dingin Oleh Masyarakat

Tabus Gas Elpiji 12 Kg | Bagus Park

Tabus Gas Elpiji 12 Kg | Bagus Park


PALEMBANG –
Industri makanan dan minuman (mamin) akan terdampak paling awal terkait rencana kenaikan elpiji 12 kg yang akan dilakukan Pertamina. Saat ini pelaku usaha mamin mulai resah, karena setelah lebaran penyesuaian harga sudah terjadi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Sumsel, Pusparia Warto Raharjo menilai, kenaikan elpiji 12 kg berpengaruh signifikan terhadap operasional usaha mamin, khususnya katering. Sebab, gas merupakan salah satu dari bahan baku yang dibutuhkan selain sembilan bahan pokok (sembako). Umumnya, pelaku usaha chatering menggunakan satu tabung satu hari untuk 100 porsi katering sebuah instansi.

“Pasti harga makanan dan minuman akan naik dan ini berpengaruh pada margin usaha yang tidak memadai. Usaha jasaboga selalu terkena pengaruh untuk semua kenaikan harga, bukan hanya elpiji tapi juga sembako yang menjadi bahan pokok usaha dan BBM untuk operasional antar,” ujarnya, Rabu (20/8).

Menurut dia, rencana kenaikan elpiji 12 kg membuat pelaku usaha resah karena perlunya penyesuaian harga di tingkat konsumen, sementara di sisi lain konsumen terbiasa dengan harga yang lama. Kondisi ini praktis menjadi kurang menguntungkan bagi mereka. Apalagi pengusaha chatering banyak yang berasal dari usaha kecil dan menengah (UKM).

“Daya beli konsumen yang rendah inilah yang jadi kendala. Saat ini harga katering Rp15.000 perporsi. Bila kami naikkan harga, mereka pasti akan lari,” kata Direktur Afzarqi Indoboga Palembang ini.

Sementara itu, Customer Development Manager Lottemart Wholesale Palembang, Abdul Azhim mengatakan, saat ini sudah ada keluhan dari anggota komunitas pelanggan produk Andalan Resto (Anto) yang dikelola pihaknya. Sebab, rencana kenaikan elpiji 12 kg berdampak pada kenaikan harga barang pokok lainnya.

“Terhitung sejak lebaran mereka mengeluhkan sepinya orderan. Usaha mamin tidak bisa mengikuti kenaikan itu secara langsung. Kalau harga disesuaikan lagi, bisa jadi orderannya jadi semakin sepi,” ujarnya.

Seperti diketahui, berdasarkan peta jalan yang sudah disampaikan Pertamina melalui surat tertanggal 15 Januari 2014 ke Menteri ESDM dan Menteri BUMN, kenaikan harga elpiji akan dilakukan secara bertahap hingga keekonomian. Per 1 Juli 2014, Pertamina akan menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp1.000 per kg menjadi Rp6.944 per kg dengan harga di konsumen Rp106.800 per tabung.

Kemudian, per 1 Januari 2015 naik Rp1.500 per kg, 1 Juli 2015 naik Rp1.500 per kg, 1 Januari 2016 naik Rp1.500 per kg, dan 1 Juli 2016 naik Rp1.500 per kg. Mulai 1 Juli 2016, harga elpiji diperkirakan mencapai keekonomian sebesar Rp11.944 per kg atau sampai konsumen Rp180.000 per tabung. Pertamina menghitung, tanpa kenaikan elpiji maka bisnis elpiji 12 kg bakal mengalami kerugian mendekati Rp6 triliun pada 2014.

TEKS     : AMINUDDIN

EDITOR   : ROMI MARADONA




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *