Panjat Pinang, Tradisi Penjajah di Negeri Merdeka

Lomba Panjat Pinang | Dok KS

Lomba Panjat Pinang | Dok KS

(Studi Kritis terhadap Tradisi pada setiap HUT RI)

 Gegap gempitan peringatan Setiap HUT ke-69 RI baru berlalu pekan silam. Ketika perayaan kemerdekaan ini tiba, seolah tidak ramai jika tidak ada panjat pinang. Saling injak, saling mentertawakan ketika ada yang jatuh. Itulah kilas gambaran seju,ah event panjat pinang di setiap desa dan kota. Tak sadar, tradisi panjat pinang adalah warisan penjajah Belanda yang mengolok negeri merdeka.

————————————-

Panjat pinang sudah menjadi tradisi bangsa untuk merayakan hari kemerdekaan. Momentum ini rupanya dijadikan sebagian orang guna mengais rezeki. Namun sesungguhnya, lomba panjat pinang pada awalnya adalah kesempatan kolonial Belanda mengolok pribumi yang memperebutkan hadiah yang digantung, berupa kebutuhan pokok.

Meski demikian, karena sisi perayaan kemerdekaan lebih menjadi perhatian, orang tidak memedulikan sisi negatif  masa lalu sebagai kesempatan bagi penjajah mengolok pribumi. Tidak berlebihan, ketika menjelang 17 Agustus, menjual batang pinang menjadi bisnis yang menjanjikan.

Seperti yang dilakukan Suwito (57), ia mengaku menjual pohon pinang setiap kali menyambut hari kemerdekaan. Biasanya para penjual pohon pinang merupakan penjual bambu. Kesehariannya, Suwito juga merupakan penjual bambu. Usahanya itu sudah digeluti sejak 1994. “Ya berjualan pohon pinang kalau mau 17-an saja,” ucarnya sebelum HUT ke-69 RI.

Menurutnya, tidak sulit mencari pohon pinang. Dari kenalannya ia selalu mendapat pasokan jelang hari kemerdekaan. Sejatinya, pohon pinang itu agak sulit dicari. Di daerah sudah jarang terdapat pohon pinang. Itu karena banyaknya hutan dan rawa yang sudah beralih fungsi. “Tapi karena kenalan saya itu membibit pohon pinang, saya selalu mudah mendapatkannya,” katanya.

Berjualan pohon pinang harus mempunyai pengusaha pembibit pohon itu. Jika penjual bambu seperti Suwito tidak mempunya kenalan pemasok pohon tersebut, pohon pinang sulit didapat. “Penjual bambu di sekitar kawasan sini juga mengaku kesulitan mendapat pohon pinang, terlebih mereka pedagang musiman,” ujar pria asal Tegal, Jawa Tengah, ini.

Penjualan Turun

Ia membeberkan, penjualan pohon pinang dari tahun ke tahun menurun. Untuk itu, pada hari kemerdekaan tahun ini, ia hanya memesan 50 batang pohon pinang jenis Jambe. Jenis ini memiliki dua warna, merah dan putih. “Saya pesan habis Lebaran. Sengaja nggak pesan banyak karena penjualan tahun lalu anjlok,” ujar ayah tiga anak ini.

Suwito mengatakan, tahun lalu ia memesan 100 batang pohon. Namun, hanya 40 batang yang laku terjual.  Ia melanjutkan, agar memudahkan konsumen, Suwito menjual pohon pinang siap pakai. Enam pegawainya membersihkan pohon pinang dari kulitnya dan memasang lingkaran dari bambu di pucuk pohon sebagai tempat gantungan hadiah.

Sebatang pohon pinang panjangnya 10 meter dengan diameter 17 sentimeter. Harga sebatang pohon Rp 1 juta. Harga tersebut belum ditambah ongkos kirim. “Ongkos kirim tergantung jarak, sekitar Rp 200.000-500.000. Biasanya diantar dengan pikap. Tapi kalau deket, antar saja dengan gerobak,” tuturnya.

Bambu Besar
Sebagai pengganti batang pinang yang harganya cukup mahal, para pedagang bambu juga menyediakan alternatif lain. Mereka menyediakan bambu besar dengan panjang 10 meter berdiameter 15 sentimeter sebagai pengganti pohon pinang. Marlan Sunanto (40) penjual bambu mengatakan, bambu pengganti pohon pinang itu dihargainya Rp 400.000- 600.000 sebatangnya.

Ia menjamin, bambu tersebut juga berkekuatan sama seperti batang pinang. “Sama kuatnya kok, baik pohon pinang dan pohon bambu nggak bakal ambruk kalau dipanjat. Pohon pinang kan karena tradisi saja. Kalau mau lebih murah, pakai bambu juga bisa. Kan ujung-ujungnya juga dilumuri oli pohonnya,” ucapnya.*

Kilas Sejarah Panjat Pinang

Panjat pinang merupakan sebuah tradisi yang ada saat era kolonial Belanda. Tradisi ini sejatinya untuk mengolok-olok dan melecehkan kaum pribumi. Para meneer Belanda mengadakan acara panjat pinang pada acara tertentu, seperti hajatan dan pesta pernikahan. Lomba panjat pinang hanya diikuti pribumi. Mereka memperebutkan hadiah yang sudah digantung berupa kebutuhan pokok, seperti gula, keju, beras, dan pakaian.

Saat itu harga kebutuhan pokok semacam itu terbilang sangat mewah di kalangan pribumi. Saat para pribumi tersebut berusaha memperebutkan hadiah yang digantung di atas, orang-orang Belanda menonton sambil menertawakan.

Kondisi ini tentu sangat menghina martabat bangsa. Saat warga pribumi bersusah payah berebut hadiah berlumur keringat dan darah, para penjajah menonton sambil tertawa. Celakanya, tradisi ini masih terus berlangsung hingga abad modern saat ini. Bukan tidak mungkin, saat perayaan 17 Agustus mereka yang pernah menjajah negeri ini tertawa-tawa melihat perlombaan panjat pinang.

Tradisi Kolonial Belanda?

Benarkah tradisi lomba panjat pinang di perayaan HUT kemerdekaan RI 17 Agustus dalam sejarahnya merupakan warisan zaman kolonial Belanda? Lomba ini memang selalu menjadi favorit bagi masyarakat Indonesia udah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Lomba ini sebenarnya adalah hiburan orang orang Belanda ketika menjajah Bangsa Indonesia.

Sejarah Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah.

Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. “Ya, agar lebih menarik dan ada menantang, batang pinang diserut hingga halus, dan dilumuri oleh pelumas mesin. Sehingga ketika dipanjat cukup susah karena licin. Peserta susah payah coba memanjat baru naik beberapa meter langsung meluncur ke bawah, karena licin,” ujar Suwito.

Terkadang ada banyak peserta yang jatuh sebelum menjangkau bagian paling atas sendiri. Sontak peserta dibawahnya yang jadi tumpuan pun ikut jatuh dan tertindih oleh temannya yang di atas. Insiden seperti ini akhirnya menarik untuk ditonton terkadang menimbulkan gelak tawa.

Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Disebut oleh Praktsi Budaya Febri Al-Lintani, Pro kontra memang terjadi mengenai perlombaan yang satu ini. Satu pihak berpendapat, sebaiknya perlombaan ini dihentikan karena dianggap mencederai nilai-nilai kemanusiaan. “Sementara pihak lain berpikir , ada nilai luhur atau filosofi dalam perlombaan ini seperti kerja keras, pantang menyerah, kerja kelompok, gotong royong, yang mungkin membuat tradisi ini bertahan hingga mampu melintasi jaman, terlepas dari kontroversial seputar panjat pinang,” ujarnya.

 

TEKS : DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER

EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 

TEKS   : AHMAD MAULANA

EDITOR  : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *