Distanak Banyuasin Bantah Petani Alami Gagal Panen

Ilustrasi Beberapa Petani Sedang Memanen Padi Didaerah Jalur 13. Ds Timbul Jaya. Muara Sugihan Banyuasin | Foto : Bagus Park

Ilustrasi Petani | Dok KS

BANYUASIN – Kabar kalau petani di Kecamatan Pulau Rimau mengalami gagal panen, dibantah oleh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Banyuasin.  Bantahan itu disampaikan Kepala Distanak Banyuasin, H Saiful Bahkri melalui Kepala Bidang (Kabid) Perlintan, Prihatarwanto ketika dibincangi di ruang kerjanya, Selasa (19/8).

“Informasi itu tidak benar, kami baru saja turun ke lokasi bersama kepala UPTD Pertanian Pulau Rimau, Jamaludin. Hasilnya, tidak ada petani yang gagal panen. Yang ada justru saat ini, petani sedang memanen padi di sawah mereka,” kata Prihatarwanto.

Memang jelas Prihatarwanto, ada hama kepik yang menyerang tanaman padi milik petani. Tetapi hama itu menyerang, buka pada masa tanam sehingga tidak menyebabkan petani mengalami gagal panen.

Tetapi menurut Prihatarwanto, memang ada penurunan hasil panen petani di Kecamatan Pulau Rimau. Hal itu disebabkan saat ini, bukan masuk pada musim penghujan melainkan musim kemarau sehingga hasil panen otomatis menurun.

“Memang hasil panen musim kemarau dengan musim penghujan akan berbeda, namun hasil panen petani tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Saat musim hujan, petani bisa memanen 5, 4 ton sampai 5,8 ton padi namun saat ini, mengalami penurunan yakni antara 4 ton sampai 4,8 ton per hektar sawah,” bebernya.

” Kami sempat terkejut ada kabar yang menyebutkan petani di Pulau Rimau, mengalami gagal panen karena diserang hama. Tetapi setelah kami cek kebenarannya, ternyata itu tidak benar bahkan sebaliknya,” ujarnya.

Prihatarwanto menyebut, petani di Kecamatan Pulau Rimau memang memanen lebih awal karena adanya serangan burung pipit atau   emprit. Walau pun begitu, hasilnya masih maksimal.

Ia menjelaskan, dari keterangan kepala desa (kades) di tiga desa yang ada di Kecamatan Pulau Rimau, petani di desa mereka tidak mengalami gagal panen walau pun hasil panennya menurun jika dibandingkan musim panen sebelumnya.

“Di Desa Kepala Dua misalnya, dari keterangan kades, rata-rata petani yang ada di desa tersebut perhektar sawahnya bisa memanen 4 ton sampai 4,8 ton gabah kering giling (GKG). Saya yakin, jika padi tersebut dipanen tepat waktu maka hasil panen akan sama seperti sebelumnya,” ucap Prihatarwanto.

“Kondisi yang tak jauh berbeda, juga dialami petani di Desa Mulya. Petani disana mengakui, sempat ada serangan hama kepi tetapi terjadi sebelum memasuki musim tanam sehingga tidak mempengaruhi hasil panen,” tukasnya.

 

TEKS          : DIDING KARNADI

EDITOR         : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *