Disdik tak Pernah Sosialisasi UU Perlindungan Anak

Ilustrasi | Bagus Park

Ilustrasi | Bagus Park

KAYUAGUNG – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Iskandar ZA, melalui Sekretarisnya, Dedi Rusdianto, ditemui kemarin,  mengatakan, terkait tentang adanya oknum guru yang menjadi terdakwa karena mencubit siswinya. Memang sejauh ini tidak pernah melakukan sosialisasi undang-undang perlindungan anak kepada setiap sekolah di OKI.

“Ya memang tidak pernah ada sosialisasi,” ucap Dedi.

Namun begitu, kata Dedi, hal itu bukanlah tugas Dinas Pendidikan, melainkan tugas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Nah, untuk di OKI sendiri KPAI tidak ada,” cetus Dedi.

Sambung Dedi, Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel sendiri tidak ada koordinasi tentang ini.

“Kami tahu adanya Undang-undang Perlindungan Anak, tapi kami tidak ngerti bagaimana sosialisasinya,” terang pria yang akrab disapa Uda ini.
Sambung dia, selama ini kepada para guru yang mengajar, hanya memberikan sebatas imbauan lisan.

Kalau imbauan lisan, kita tak menapik pernah menyampaikan secara tidak langsung, agar para guru jangan sampai melakukan hal-hal yang bisa melukai fisik siswa dalam mengajar.

Walaupun pada dasarnya tujuan untuk mendidik. Dedi membandingkan, sebagai orang yang pernah menjadi siswa, pengalaman tentang bagaimana merasakan cubitan para guru sewaktu mengayam pendidikan, sudah tak terhitung lagi. Namun, kondisinya saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang.

“Dulu kan belum ada Undang-undang Perlindungan Anak, sekarang ini harus hati-hati. Kalau dulu orang tidak muda untuk mengadukan guru, kalau sekarang, jangan coba-coba,” ujarnya.

Kata dia, dengan adanya kejadian ini pihaknya sedikit menyayangkan. Seharusnya pihak orang tua siswa jangan terburu-buru melaporkan kasus ini.

“Kan masih ada jalan keluarnya bagaimana duduk perkaranya. Saya rasa kalau ini diselesaikan baik-baik tidak akan mencuat seperti ini permasalahan ini,” sesal Dedi.

Bagaimana bila nanti sang guru menjadi terasangka? Jawab Dedi, pihaknya akan minta pertolongan ogranisasi PRGI untuk bisa menjebatani masalah ini.

“Kami akan minta bantuan PGRI, karena yang bersangkutan adalah guru, otomatis akan dikembalikan ke organisasinya,” tandasnya.

Adapun pemberitaan sebelumnya, Saherni (50) seorang oknum  guru Matematika SDN Desa Anyar Kecamatan Kayuagung terpaksa duduk dikursi pesakitan karena menjadi terdakwa dalam perisdangan yang digelar di  PN Kayuagung, Senin (18/8).

Sang wali kelas 5 ini didakwa telah melakukan penganiayaan terhadap salah seorang siswinya, Eka Ratu Anggraini (10) dengan cara mencubit perut sang siswi hingga mengalami luka lecet dan menjadi koreng, padahal cubitan tersebut dilakukan oleh oknum guru sebagai bentuk hukuman karena tidak bisa mengerjakan soal matematika.

 

TEKS  : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *