Aniaya Siswi, Guru Disidang

Ilustrasi

Ilustrasi

KAYUAGUNG – Saherni (50) seorang oknum  guru matematika di SDN Desa Anyar Kecamatan Kayuagung terpaksa duduk di kursi pesakitan karena menjadi terdakwa dalam persidangan yang digelar di  PN Kayuagung, Senin (18/8).

Wali Kelas 5 di sekolah ini didakwa karena melakukan penganiayaan terhadap seorang siswinya bernama Eka Ratu Anggraini (10) dengan cara mencubit perut anak didiknya ini. Akibat prilaku Saherni, kini siswinya itu mengalami luka lecet dan menjadi korengan. Menurut Saherni, cubitan adalah sebagai bentuk hukuman karena tidak mengerjakan soal matematika.

Pada persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, majelis hakim yang diketuai Frans Efendi Manurung dan hakim anggota Firman Wijaya dan Tri Handayani dan Jaksa Penuntut Umum Arvye Yanuardi  serta Pensehat Hukum Terdakwa H Herman  memeriksa lima orang saksi termasuk saksi korban Eka, saksi itu antara lain Umar dan Susparini yang merupakan kedua orang tua korban, selanjutnya rekan satu kelas korban Tuti dan Eka.

Dalam keterangannya Eka berkata, dirinya dicubit oknum guru bersama dengan teman-temannya yang lain lantaran tidak bisa mengerjakan tugas pelajaran matematika, beberapa waktu lalu.

“Soalnya ada lima, tetapi saya tidak bisa mengerjakan satu soal pun sehingga saya dicubit sebanyak lima kali di bagian perut, sedangkan teman-teman saya yang lain dicubit juga. Sebelumnya memang ada perjanjian jika tidak bisa mengerjakan soal metematika maka akan dicubit,” tutur Eka bersaksi.

Cerita Eka, kejadian dia dicubit sang guru bukan kali pertama, melainkan beberapa kali, dimana setiap kali pelajaran matematika dan ada soal yang tidak bisa dikerjakan maka akan dicubit oleh oknum guru.

Hanya saja ia tidak mau menceritakan ini kepada ayahnya karena takut, namun usai dicubit yang terakhir kalinya, korban Eka melihat bagian perutnya yang dicubit tampak lecet dan mengalami luka memar. Selanjutnya ia melaporkan pada ibunya. Merasa tidak terima anaknya telah dianiaya maka kedua orang tua korban melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian.

“Luka pada anak saya itu memang  karena dicubit, selanjutnya saya bersama ayah Eka melaporkan hal tersebut kepolisi sekaligus juga meminta visum dari dokter,” timpal Susparini.

Kesaksian serupa juga disampaikan Tuti Amelia dan Kartini. Dua siswa kelas enam ini memang selalu dicubit oleh oknum guru jika tidak bisa mengerjakan soal matematika.

Saksi Umar menambahkan, dirinya sengaja melaporkan perbuatan guru terhadap putrinya untuk memberikan efek jera agar sang guru tidak mengulangi perbuatannya.

Karena menurut dia, seorang guru dalam mendidik siswa saat ini tidak perlu lagi menggunakan kekerasan fisik. Apalagi hanya karena siswa salah menjawab soal yang diberikan.

“Wajar kalau siswa salah, namanya masih murid, makanya kami sebagai orang tua menyengolahkan anak, karena ingin anak pintar, nah ini tugas guru, untuk membina bukan dengan cara kekerasan fisik,” tandasnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, Majelis Hakim menunda sidang dan akan melanjutkan agenda persidangan pada pekan depan dengan agenda mendengarkan kerangan saksi.

Usai Persidangan, terdakwa Saherni yang sebelumnya memang tidak ditahan oleh pengadilan mengatakan, dirinya tidak ada sama sekali niat untuk menyakiti apalagi menganiaya para siswanya, yang dilakukannya semata-mata untuk mendidik para muridnya agar dapat lebih giat lagi.

“Tidak ada niat untuk menyakiti, dan saya tidak merasa dendam buktinya anak tersebut tetap saya naikkan ke kelas enam, namun hal ini sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan,” ia berkilah.

 

TEKS   : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *