Adik Bupati OKUS Pukul Wartawan

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Diduga tidak senang lantaran gambarnya diambil oleh wartawan Sriwijaya TV (STV), Adik Bupati Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) Maulana  Sera’i (54), naik pitam dan langsung memukul Adi Gunawan (27), yang merupakan wartawan STV.

Adi dipukul saat dirinya mengambil gambar Maulana, yang sedang menjalani sidang putusan dugaan tipikor Proyek Jalan Jagaraga OKU Selatan di Pengadilan Negri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palembang, Senin (18/8).

Tak sampai di situ, empat keluarga Maulana yang seluruhnya pria mengejar Adi yang tengah fokus mengambil gambar. Begitu sudah di dekat keberadaan Adi, satu dari empat pria itu tiba-tiba memukul kepala Adi. Belum puas, ia melayangkan pukulan kedua. Beruntung, Adi bisa menangkis dengan tangan.

Merasa nyawanya terancam, Adi memutuskan melarikan diri ke arah halaman dalam PN Palembang dengan tetap membawa handycam. Keempat pria yang mengintimidasi dirinya mencoba mengejar. Beruntung, aparat kepolisian berhasil menghentikan pengejaran dan Adi bisa keluar dari halaman PN Palembang.

“Saya hanya mendekat, belum sempat mengambil gambar. Empat orang keluarga Maulana menunjuk dan mengejar saya. Mereka memukul kepala saya satu kali. Beruntung ada polisi hingga saya dapat lolos dari kepungan keluarga korban yang emosi,” kata Adi.

Kejadian ini membuat Adi kecewa. Pria bertubuh gempal itu berencana akan melaporkan ini ke aparat kepolisian. Saat ini, ia masih bekordinasi dengan kerabat terkait hal ini.

Pada sidang putusan itu, Maulana divonis majelis hakim tipikor yang diketuai Posma Nainggolan dengan penjara lima tahun serta denda Rp 200 juta, subsider penjara satu tahun. Vonis itu jauh lebih berat dari tuntutan jaksa, Yunita, yang menuntut Maulana dipenjara 1,5 tahun dan denda Rp 50 juta.

Untuk dua terdakwa lainnya yang terlibat kasus yang sama, Burhaenedi dan Khairul Amri, masing-masing divonis penjara empat tahun dan denda Rp 200 juta subsider penjara satu tahun. Vonis ini juga jauh lebih tinggi dari tuntutan Yunita, yang menuntut sama besarnya dengan Maulana.

Ketiga terdakwa dituntut melanggar pasal 3 UU RI No 31 tahun 1999 tentang tipikor.

“Kita memiliki pandangan lain dari jaksa. Baik terdakwa maupun jaksa bisa mengajukan banding terkait putusan ini,” kata Posma, yang menjerat ketiga terdakwa dengan pasal 2 UU RI No 31 tahun 1999.

Selain membebani penjara dan denda, Posma juga menyatakan harta benda Maulana yang sudah disita diserahkan ke negara. Saat Maulana ditetapkan tersangka oleh Subdit III Ditreskrimsus Polda Sumsel, harta benda Maulana macam tanah, mobil, dan rumah sudah disita terlebih dahulu. Total, aset Maulana yang disita mencapai Rp 3 miliar, setara dengan kerugian negara yang ia buat.

Untuk informasi, dalam proyek pembangunan Jalan Jagaraga tersebut dibangun jalan sepanjang 14 kilometer yang pembangunannya menggunakan anggaran APBD 2011 sebesar Rp 35.880.069.000.

Dalam proyek tersebut yang belum selesai sudah mendapat bayaran 100 persen. Bahkan, dalam pembangunannya diduga asal asalan dan tak sesuai dengan spek pembangunan. Akibatnya  negara mengalami kerugian sekitar Rp 9,2 miliar.

 

TEKS  : OSCAR RYZAL

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *