Telok Abang Berawal dari Tradisi Masyarakat Tionghoa

Ilustrasi Telok Abang | Dok KS

Ilustrasi Telok Abang | Dok KS

PALEMBANG – Bagi masyarakat Palembang mungkin, tidak lengkap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia atau yang dikenal dengan sebutan Agustusan tanpa Telok Abang. Maklumlah, tradisi ini berlangsung sudah lama dan menjadi tradisi turun menurun.

Informasi yang dihimpun Kabar Sumatera, tradisi Telok Abang ini sudah ada sejak tahun 1930 an. Saat itu, biasanya Telok Abang dijual pedagang di pasar malam di kawasan pinggiran Sungai Musi.

Budayawan Palembang, (Alm) Johan Hanafiah  menyebut tradisi Telok Abang berasal dari tradisi masyarakat Tionghoa. Di Tionghoa,  ada tradisi menyambut kelahiran bayi dengan telur merah yang disebut Man Yue.

Telur dalam masyarakat Tionghoa melambangkan awal kehidupan, sedangkan merah merupakan lambang unsur tubuh atau darah manusia. Dalam tradisi Man Yue, telur merah ini akan dibagikan kepada para tamu yang datang pada acara tersebut.

Tradisi ini, kemudian dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang menetap di Palembang dan digunakan untuk merayakan ulang tahun, Cap Go Meh, atau hari-hari besar kolonial Belanda. Tradisi tersebut kemudian menjadi tradisi masyarakat Palembang.

“Telok abang itu simbol. Warna merah simbol perlawanan dimasa perjuangan sekaligus keberanian dalam menentang kolonial, sementara telur adalah simbol awal kehidupan atau regenerasi. Semangat inilah yang coba disampaikan masyarakat Palembang dalam telur abang, disaat awal kelahirannya di era kolonialisme,” kata Tarech Rasyid, pengamat sosial dari Universitas IBA Palembang ketika dibincangi, Jumat (15/8).

Tradisi ini terangnya, kemudian terus berkembang dan selalu ada setiap peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya tradisi telok abang ini, diikuti dengan lomba bidar di Sungai Musi.

“Tradisi telok abang ini, harus dilegalkan oleh pemerintah. Artinya, jangan hanya tradisi itu hanya menjadi tradisi biasa dan tanpa makna. Caranya, bisa dengan menggelar berbagai festival dan lainnya. Misalnya pawai telok abang, festival telok abang atau lainnya. Jika ini dilakukan terus menerus maka akan jadi potensi wisata di Palembang,” sarannya.

Hal senada disampaikan pengamat sosial dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Alfitri. Menurutnya, tradisi telok abang adalah bagian dari tradisi Kesultanan Palembang Darusallam.

“Tradisi itu dibawa masyarakat Tionghoa yang berdagang dan menetap di Palembang. Penggunaan telur selain menyimbolkan awal kelahiran juga simbol dari keikhlasan,” ucapnya.

Tradisi telok abang tersebut terang Alfitri, bisa jadi potensi wisata asal dimaksimalkan. “Manfaatkan momentum peringatan HUT RI, untuk mengenalkan tradisi telok abang. Saya yakin jika ini dikawal setiap tahunnya oleh pemerintah, maka akan jadi potensi wisata,” tegasnya.

Festival Telok Abang

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palembang pun menyadari potensi itu, karenanya menurut Kepala Disbudpar Kota Palembang, Yanuarpan, Festival Telok Abang digelar untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-69.

“Telok abang adalah telur rebus berwarna merah yang biasanya ditancapkan di atas miniatur perahu, mobil-mobilan yang terbuat dari gabis. Festival ini, juga bentuk promosi tradisi masyarakat Palembang, telok abang belum terlalu dikenal masyarakat Indonesia,” teragnya.

“Alhamdulillah pesertanya cukup antusias, pesertanya mulai dari pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum,  jumlahnya ratusan. Kegiatan ini, akan terus dikembangkan dan digalakkan, sehingga budaya Palembang tidak punah,” tukasnya.

 

TEKS          : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR        : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *