Buntut Aksi Mogok, Karyawan Transmusi Dipecat

Aksi mogok dan demonstrasi Supir dan Pramuniaga Bus TransMusi di kantor DPRD kota Palembang beberapa Waktu Lalu berujung pada pemecatan beberapa karyawannya | Dok KS

Aksi mogok dan demonstrasi Supir dan Pramuniaga Bus TransMusi di kantor DPRD kota Palembang beberapa Waktu Lalu berujung pada pemecatan beberapa karyawannya | Dok KS

PALEMBANG – Aksi mogok kerja yang dilakukan sopir dan pramuga Bus Rapit Transit (BRT) Transmusi karena menuntut dibayarkannya gaji, ternyata berbuntut dengan pemecatan. Ada dua karyawan Transmusi yang dipecat oleh PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J).

Kedua karyawan yang dipecat tersebut yakni Syafril dan Adi Hidayat. Syafril, saat aksi sopir dan pramugara Transmusi di DPRD Palembang beberapa waktu lalu bertindak sebagai koordinator aksi (korak), sementara Adi Hidayat menjadi koordinator lapangan (korlap).

“Mereka diberhentikan sebagai karyawan PT SP2J, terhitung sejak hari ini (Jumat). Pemecatan ini dilakukan, karena mereka sudah memprovokasi karyawan lainnya untuk melakukan mogok kerja, sehingga membuat SP2J merugi cukup besar,” kata Direktur Utama (Dirut) PT SP2J, Marwan Hasmen, Jumat (15/8).

“Penghasilan rata-rata dari BRT adalah Rp 30-40 juta perhari. Tetapi akibat mogok yang dilakukan karyawan sejak Selasa (12/8) lalu sampai hari ini, membuat kami menanggung kerugian besar. Mereka harus bertanggung jawab, hitung saja berapa kerugian manajemen akibat mereka mogok,” terang Marwan menyebutkan alasan pemecatan dua karyawannya tersebut.

Marwan menerangkan, pemecatan terhadap kedua karyawan itu juga dilakukan karena aksi yang mereka lakukan bersama karyawan lainnya, tidak ada pemberitahuan ke manajemen. Padahal sebutnya, didalam Undang-Undang (UU) Nomor 13 tahun 2009 diterangkan, apabila ingin melakukan aksi massa maka harus ada pemberitahuan kepada pihak-pihak terkait.

Pemberitahuan ini jelas Marwan, harus disampaikan sepekan sebelum aksi dilakukan.”Kalau mau mogok kerja harus kasih tahu, kan ada aturannya. Apa yang mereka lakukan itu, adalah ilegal,” tegasnya.

Marwan mengaku, pemecatan terhadap kedua karyawan tersebut sudah melalui prosedur. Pemanggilan terhadap keduanya terang Marwan, sudah dilakukan Namun keduanya membangkang dan tidak hadir. “Ketika kami panggil mereka tidak hadir. Oleh itu, kami keluarkan surat memberhentian terhadap kedua karyawan tersebut,” jelas Marwan.

Marwan menyebutkan, sampai hari ini (kemarin), BRT Transmusi belum beroperasional. Padahal Transmusi, adalah sarana transportasi publik. “Sudah jelas bus ini untuk melayani masyarakat. Mereka itu egois, tidak pernah memikirkan masyarakat,” tudingnya.

Marwan menjelaskan, atas kerugian yang dialami manajemen itu, pihaknya akan membawa masalah ini ke pengadilan hubungan industrial.  “Kalau mereka tidak senang atas pemecatan itu, silahkan lapor balik. Kita ketemu di pengadilan. Karena apa yang kami lakukan sudah sesuai prosedur,” tantangnya.

Ditanya terkait apakah PT SP2J akan memberikan pesangon kepada kedua karyawan yang dipecat tersebut, Marwan menjawab, pasti akan diberikan. “Pesangon akan kita berikan, tetapi soal masalah hukum ini akan tetap dilanjutkan. Mereka harus bertanggung jawab,” ucapnya.

Sementara itu, Syafril, salah satu karyawan PT SP2J yang dipecat saat dibincangi Kabar Sumatera menyebut tindakan pemecatan yang dilakukan manajemen PT SP2J terhadap dirinya dan rekannya itu merupakan perbuatan zalim.

Karena pemecatan yang dilakukan tersebut jelasnya, disebabkan tindakan aksi mogok kerja yang mereka lakukan. “Apa yang kami lakukan itu, untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi manajemen menuding itu aksi ilegal. Saya dianggap biang dari aksi itu, “ ungkap Syafril saat mengadukan nasibnya tersebut ke DPRD Kota Palembang.

Sambung Syafril, ia tidak terima atas tuduhan managemen, yang menyebut bahwa akibat demo yang dilakukan karyawan, menyebabkan perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 30-Rp 40 juta perhari. “Aksi kami itu, untuk memperjuangkan hak karyawan, yang belum diselesaikan manajemen,” tukasnya.

 

TEKS          : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR        : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *