Napi Pembunuhan Perkosa ABG Dalam WC

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Seorang narapidana (Napi) kasus pembunuhan atas nama Ahmad Soleh (20), dilaporkan telah memperkosa kenalan barunya. Gadis yang jadi korban kebuasan sang napi, sebut saja Bunga (16), warga Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Parahnya, aksi tersebut dilakukan pelaku, Sabtu (9/8) sekitar pukul 15.00 WIB tersebut, terjadi dalam WC LP Tanjung Raja Klas 2A, Ogan Ilir (OI), tempat sang napi menghabiskan masa hukuman tiga tahun terakhir.

“Adik saya jelas trauma dengan kejadian tersebut, jadi kami bawa berobat ke psikolog,” ujar Rendra Darmansyah (25), kakak kandung korban dibincangi awak media saat hendak  mengantarkan adiknya berobat ke psikolog di Palembang,  Rabu (13/8) kemarin.

Dari keterangan Rendra, jika adiknya itu kenal dengan sang napi via telpon, bulan Juli lalu. “Gak tahu bagaimana napi ini dapat nomor HP adik saya, yang saya tahu mereka komunikasi via telpon,” urai Rendra, tercatat sebagai warga Dusun IV, Desa Sinar Harapan Mulya, Kecamatan Teluk Gelam, OKI ini.

Entah apa yang diceritakan pelaku, korban akhirnya datang ke LP Tanjung Raja, OI. Namun,  saat kejadian, sebelumnya korban menemui keluarga napi yang berada di OKI, lalu bersama-sama menjenguk pelaku.

Saat keluarga pelaku berada di luar, sang napi kemudian membawa adik Rendra ke dalam WC LP. Dalam tempat itulah, “kehormatan” adiknya direnggut pelaku.

Lanjut Rendra, usai kejadian adiknya itu tidak langsung pulang ke rumah. Ia menduga adiknya malu hingga ikut keluarga pelaku. Adiknya itu baru ditemukan, setelah dijemput Minggu (10/8) pagi.

Rendra yang blak-blakan mengaku sebagai mantan napi LP Tanjung Raja OI, terbuang atas kasus penggelapan tahun 2010 selama 1,3 tahun ini mengungkapkan, perihal pemerkosaan terjadi pada adiknya, malah ia dapat kabar dari teman dekatnya.

Temannya yang masih berada dalam LP Tanjung Raja, dan mengenal adiknya, menghubungi dirinya. “Teman saya bilang, adik saya baru saja besuk napi di blok D dan diperkosa di dalam WC,” cetusnya.

Mendapat informasi itu, tentu saja Rendra mengaku kaget. Ia tak menyangka, adiknya malah  yang jadi korban.

Rendra menceritakan sejak tahun 2010 hingga 2011 saat ia mendekam di LP Tanjung Raja, istilah tersebut, mengartikan jika para napi atau tahanan, menyewa ruang WC untuk berhubungan badan dengan perempuan didatangkan dari luar.

“Kalau ada duit, dari zaman saya dulu, emang bisa nyewa tempat, biasaya WC buat begituan (berhubungan badan,red),” urainya.

Memastikan informasi yang ia dapat, Rendra dan keluarga mulai menginterogasi Bunga. Membuat korban, akhirnya mengakui musibah dialaminya.

Hasil mufakat keluarga, Minggu (10/8) malam, Rendra melaporkan kejadian ini ke Mapolres OI, dengan nomor laporan LPB/246/VIII/2014/Res/OI. Dari hasil visum didapat pihak keluarga, “kesucian” Bunga memang sudah direnggut.

Saat mengunjungi LP Tanjung Raja, dan bertemu langsung dengan pemerkosa adiknya, Senin (11/8),  Rendra baru mengetahui, jika Ahmad Soleh mengaku telah menyogok seorang oknum sipir untuk melancarkan aksinya.

“Si Soleh bilang, pertama izin sama tampeng atau napi yang dipercaya buat jaga di WC. Setelah melakukan perbuatannya, ia bayar Rp100 ribu sama sipir bernama Romzi,” urai Rendra.

Usai kejadian ini, atas instruksi Kalapas Tanjung Raja, WC yang sejak lama dijadikan tempat “Mesum” bagi napi, direnovasi. Pengawasan pun lebih diperketat agar kejadian serupa tidak terjadi.

Pihak LP pun menurutnya sempat ingin memediasi kasus menimpa adiknya ini. Solusi ditawarkan, dengan menikahkan adiknya dengan Soleh. Tapi solusi ini langsung mendapat kecaman dari keluarganya.

“Orang LP bilang ini kasus kecil. Tinggal menikahkan korban dan pelaku, masalah selesai. Cuma napi itu vonisnya sepuluh tahun karena bunuh orang. Bebasnya saja masih lama. Sekarang saja baru jalani tiga tahun masa hukuman,” ucap Rendra geram.

Selain berharap pihak berwajib terus mengusut kasus ini dan “memperdalam” masa tahanan pelaku, Rendra berharap, pihak LP Tanjung Raja OI serta Kanwil Depkumham Sumsell dapat berbenah. Agar kejadian serupa tidak  terulang lagi.

 

TEKS    : Oscar Ryzal

EDITOR  : SARONO P SASMITO




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *