Rezim Berganti, Saatnya Orang Baik Berbuat

Imro

Oleh Imron Supriyadi

(Penulis adalah Penulis Buku “Revolusi Hati Untuk Negeri”)

Tahun politik dalam konteks nasional akan berakhir di ujung tahun 2014. Namun konstelasi politik lokal akan terus bergulir. Sebab di tahun 2015 paling tidak akan ada 5 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan (Sumsel) yang menggelar Pemilihan Kepala Daerah (pemilukada). Seperti Kabupaten Ogan Ilir, OKU Timur, Musirawas, PALI dan OKU Selatan.

Tentu saja, geliat demokrasi dalam konteks lokal ini, bagi separuh warga di negeri ini akan seperti berpendarnya kembang api tahun baru. Ada tumpukan harapan dari masyarakat terhadap pentingnya perubahan kondisi bangsa.  Moment pemilihan legislatif (pileg) dan Pemilihan Presiden (pilpres) di tambah lagi pemilukada di tingkat lokal akan menjadi tumpuan harapan akan terjadinya perubahan. Meminjam istilah Anies Baswedan, juru bicara pasangan presiden terpilih Jokowi-JK, untuk mendesak percepatan perubahan bangsa, tidak bisa hanya berpangku tangan. Orang baik harus turun tangan bersama (TTB-red).

Pentingnya barisan orang baik versi Anies Baswedan  yang dikatakan wajib masuk dalam sistem politik dan tatanan birokrasi kita, bertujuan agar tata kelola bangsa tidak terus menerus dikuasi oleh sistem, yang cenderung terkontaminasi oleh pragmatisme, pemikiran dan mentalitas yang lebih mengedepankan “kemakmuran prbiadi” karimbang mengendepankan kesejahteraan bersama. Demikian rendahnya nilai solidaritas kita untuk peduli dan berani berkata “tidak” dan menolak ketidakbaikan, sehingga ketidakbaikan jutseru main menjadi-jadi. Dari tingkat RT sampai di tingkat presiden sekalipun.

Deretan kasus sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan. Kalau mengingat kasus pajak yang dikemplang Gayus Tambunan tahun lalu, Kasusa Bank Century, kasus proyek Hambalang, dugaan penggelapan dana haji, sampai kasus lain yang menyeret sejumlah pejabat negara dan kepala daerah, suap menyuap sengketa pemilukada di Mahkamah Konstitusi (MK), politik uang, merupakan catatan hitam yang sudah seharusnya segera diakhiri.

Kalau saya umpamakan, selama ini orang baik sudah taat membayar pajak. Tetapi keperuntukkannya, kemana arah anggaran itu, masyarakat tidak bisa ikut mengelola dan memantau arah uang negara. Malah sebaliknya, nyaris separuh lebih uang pajak berbalik menjadi “uang bancak-an” bagi sejumlah oknum pejabat.  Akibatnya, meski pajak terus dibayar, tetapi faktanya masih banyak persoalan bangsa yang tidak selesai dibenahi. Bahkan masalah korupsi, pendidikan dan masalah lainnya masih menjadi persoalan bersama yang segera dituntaskan.

Tapi di tengah sekumpulan orang baik yang bersepakat untuk menyatuan keinginan demi perbaikan negeri, ada saja kalimat pesimis yang muncul. “Pak, kalau hari ini dibersihkan, nanti juga kotor lagi,” ujarnya. Dalam satu hal ini, kembali meminjam istilah Anies Baswedan,  selama ini masyarakat yang baik selalu seperti menyemir sepatu. “Kalau misalnya anak saya bilang : Ayah, sepatunya tidak usah disemir, sebab besok akan kotor lagi. Ini yang terjadi sekarang. Sebagian orang mengatakan, biarkan saja bangsa ini seperti ini. Toh, berganti pemimpin juga masih akan tetap seperti ini, tidak ada perubahan,” ujarnya.

Saya pikir kita tidak seperti itu. Kita harus terus menyemir sepatu, tinggal bagaimana setelah itu, kita harus berhati-hati agar tempat-tempat kotor yang akan menodai sepatu yang sudah disemir itu bisa kita kikis secara perlahan. Oleh sebab itu, moment pergantuan rezim ini orang baik harus berbuat, dan tidak boleh lagi sekadar diam menjadi penonton dan berpagku tangan.

Tentu keinginan ini menjadi harapan semua pihak sekaligus dapat menjadi catatan bagi kita untuk kemudian sigap dan menguatkan diri dalam menata hati, menyiapkan mental kita guna membuka diri, pimikiran : saatnya kita berbanh untuk menjadi orang baik.

Tanyakan pada setiap diri kita; siapkah kita diajak menjadi orang baik? Siapkah kita diajak untuk jujur? Siapkah kita keluar dari kubangan lumpur korupsi, keluar dari gurita nafsu korupsi, keluar dari cengkeraman ‘kong-kalikong’ dan suap meyuap dalam berbagi hal? Akankah kita mau keluar dari semua itu dan menjadi intan permata yang lebih mulia lalu masuk dalam etalase yang harganya mahal? Atau malah sebaliknya, kita akan tetap memilih menjadi lumpur yang terbuang? Kata orang, hidup adalah pilihan. Tapi jika peluang dan pilihan menjadi orang baik sudah terbuka, mengapa kita harus memilih jalan keburukan?**

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *