Pembatasan BBM Disebut Khianati Rakyat

Ilustrasi SPBU | Dok KS

Ilustrasi SPBU | Dok KS

PALEMBANG – Pembatasan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang diterapkan pemerintah, sudah diberlakukan di Sumsel. Kebijakan ini, mengundang protes dari kalangan mahasiswa. Puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GMP), Jumat (8/8), mendatangi DPRD Sumsel.

Kedatangan puluhan mahasiswa itu ke gedung rakyat tersebut, tak lain menyampaikan penolakan mereka terhadap kebijakan pembatasan penjualan BBM subsidi. Mereka menyebut kebijakan itu, sebagai tipu-tipu rezim khianat untuk gilas rakyat.

Namun aksi ini, tidak mendapatkan tanggapan anggota dewan. Sebab tidak ada satu pun anggota dewan, karena para wakil rakyat itu berada di luar kota sehingga pernyataan tuntutan mereka disampaikan melalui faxmile ke pemerintah pusat.

“Pemerintah berasalan, pembatasan penjualan BBM subsidi ini dilakukan agar APBN tidak habis dikuras untuk membiayai subsidi BBM. Itu dalil klasik, padahal tujuan sebenarnya untuk liberalisasi energi yang merupakan realisasi Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas (Migas),” tuding Jihan, koordinator aksi.

” Lagi lagi skema pembatasan BBM bersubsidi hanyalah kedok untuk menutupi niat utama pemerintah, yakni menaikan harga BBM demi memenuhi perintah tuan-tuannya di Bank dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan USAID, serta memenuhi syahwat para kapital asing. Alih-alih rakyat mendapatkan berkah atas kekayaan alam yang berlimpah, justru rakyat dijadikan tertuduh yang membebani negara,” kritik Jihan.

Koordinator lapangan (Korlap), Lido Timaru menambahkan, dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sudah ditegaskan, kalau kekayaan alam yang terkandung di Indonesai dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi kemakmuran masyarakat.

“Realitasnya, kekayaan alam kita bukannya dipergunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Yang ada, untuk menyengsarakan masyarakat. Contohnya, dengan kebijakan pembatasan penjualan BBM subsidi. liberalisasi migas saat ini sudah dilakukan di Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir. Indonesia kini, sudah dalam  cengkraman kapitalisme global,” tukasnya.

 

TEKS        : ARDHY FITRIANSYAH

EDITOR      : DICKY WAHYUDI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *