Ayam Pramuka Tembus Rp 47 Ribu Per Ekor

Penjual Ayam Pramuka | Dok KS

Penjual Ayam Pramuka | Dok KS

PAGARALAM – Pasca perayaan Idul Fitri 1435 Hijriyah, harga kebutuhan bahan pokok saat ini masih melambung dan sepertinya mau naik lagi. Sementara sejumlah warga di Bumi Besemah mulai menggelar hajatan dan kegiatan itu tampaknya sudah menjadi tradisi. Sehingga sangat berpengaruh pada tingginya permintaan terhadap sejumlah  kebutuhan bahan pokok, termasuk harga ayam pramuka pun melambung seusai lebaran.

Pantauan di lapangan, disejumlah pasar Inpres dan pasar  Induk Nendagung Kota Pagaralam, harga ayam pramuka naik tajam.  Semula harga Rp 38 ribu per ekor, saat ini menembus hingga Rp 47 ribu per ekor.

Maya (56), salah satu agen ayam pramuka di Tebat Baru Ilir mengakui hal itu. Sejak tiga hari hari usai lebaran Idul Fitri, harga ayam pramuka mulai naik sekitar Rp5.000 atau semula Rp 40.000 per ekor menjadi Rp 45.000 per ekor.

“Dua hari menjelang Idul Fitri 1435 H, harga ayam pramuka semula Rp 38.000 menjadi Rp 40 ribu, tetapi saat ini naik menjadi Rp 45 ribu per ekor,” kata Maya, kemarin (8/8).

Pedagang ayam pramuka lainnya, Kom (58) mengatakan, pasca lebaran permintaan meningkat, sehingga berpengaruh dengan harga jual ayam pramuka. Harga ayam pramuka mengalami peningkatan antara Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per ekor.

“Ya, mau digimakan lagi memang harga  ditingkat agen di Lubuk Linggau dan Palembang memang sudah naik. Sebelum lebaran kita memasok ayam untuk Pagaralam mencapai 8 ribu hingga 10 ribu ekor. Sekarang meningkat menjadi 15-20 ribu ekor per hari, karena banyak masyarakat Pagaralam mulai ramai menggelar hajatan pernikahan dan syukuran,” katanya.

Musim panen dan maraknya warga menggelar pesta perkawinan dan hajatan lainnya sambung Kom, kebutuhan ayam pramuka meningkat.

“Setiap agen jumlah memasok ayam tidak sama, ada  yang 2 ribu ekor hingga 4 ribu ekor. Tetapi setelah ditotal secara keseluruhan bisa mencapai hingga 25 ribu ekor perhari,” ujarnya seraya berkata kita tidak menaikan harga secara sepihak, karena tidak ada istilah menyetok ataupun menimbun baik menjelang maupun usai lebaran.

Ia menambahkan, sejumlah agen ayam pramuka yang ada di Pagaralam biasa dipasok dari Palembang, Lubuklinggau, Banyuasin dan Kepayang Bengkulu Utara dan lainnya.

“Warga yang membeli ayam untuk kebutuhan hajatan meningkat,  sehingga hal itu berpengaruh pada harga jual ditingkat agen,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menenggah dan Pengelolaan Pasar (Disperindagkop UKM PP) Kota Pagaralam, Rahmad Madro SSos mengatakan, pasca lebaran memang banyak masyarakat  yang menggelar hajatan dan syukuran.

“Sepertinya sudah menjadi tradisi, banyak warga Pagaralam menggelar hajatan dan syukuran pasca Idul Fitri. Sehingga kebutuhan maupun permintaan ayam pramuka meningkat, bahkan  dapat berlangsung hingga satu bulan penuh dan akan kembali normal menjelang Idul Adha nanti,” jelasnya.

Lanjutnya, kebutuhan ayam bukan hanya untuk Pagaralam saja, tetapi termasuk pula daerah sekitarnya seperti Tanjung Sakti, Jarai, Pajarbulan dan Muarapayang Kabupaten Lahat.

“Para  pedagang ayam pramuka dimbau agar tidak menaikan harga penjualan secara sepihak dengan tinggi  permintaan akibat banyaknya warga yang hendak menggelar hajatan,” harapnya.

 

TEKS   : ANTONI STEFEN

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *