Tradisi Khas Palembang Saat HUT RI

Ilustrasi Perahu Bidar | Dok KS

Ilustrasi Perahu Bidar | Dok Kda

Sebagaimana kota-kota lain di Indonesia , Palembang pun bersemarak dan berhias  apabila memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. HUT kemerdekaan merupakan hari raya nasional yang harus diperingati dengan segala macam kegiatan yang riang gembira dan dapat membangkitkan rasa patriotisme serta nasionalisme.

Dari banyaknya kegiatan yang mengekpresikan kegembiraan, patriotisme dan nasionalisme, yang umumnya sama dengan kegiatan-kegiatan di kota lain, ada tiga bentuk kegiatan budaya yang istimewa dan hanya ada di kota yang tertua di Indonesia ini, yakni: Telok Abang, Telok Ukan dan Lomba Bidar.

Telok Abang

Telok abang dalam bahasa Indonesia berarti telur merah. Pada istilah ini, telok abang adalah telur rebus yang kulit cangkangnya dilumuri pewarna merah kue. Yang membuat telur merah ini menjadi berarti bagi anak-anak adalah karena telor ini menyatu dengan kapal mainan. Tersatu karena telok abang ditusuk dengan bambu seperti tusuk sate dan dilekatkan ke badan atau di bawah bendera merah putih yang menghiasi kapal.

Bagi masyarakat Palembang, akan sangat mengerti apabila anak-anak di Palembang akan meminta oleh-oleh telok abang. Telok abang yang dimaksud bukan hanya telok abangnya saja, tetapi kapal mainan yang ada telok abang dan benderanya.

Kapal mainan ini dahulu terbuat dari kayu gabus (kayu yang lembut, ringan dan mudah dibentuk), tetapi sekarang ada yang membuatnya dengan bahan kertas kardus.

Jika direnungi, telok abang ini memiliki makna tersendiri. Warna merah tentu berarti berani, sama dengan makna merah di bendara Merah Putih. Sedangkan isinya yang putih bermakna suci, juga sama dengan makna warna putih di bendera sang saka kita. Nah, warna kuning berarti kemegahan yang sama dengan warna emas dan seperti juga sama dengan warna motif songket Palembang.

Nilai tambahnya kapal mainan ini tidak saja hanya mainan, tetapi telornya dapat dimakan oleh anak-anak. jadi, beli mainan sekaligus juga beli telur bergizi yang bisa dimakan oleh anak-anak.

Telok Ukan

Telok ukan adalah telur yang isinya sudah direkayasa dengan terlur yang dicampur dengan santan kelapa, daun pandan (diparut). Cangkang telur yang digunakan adalah telur bebek yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sembelum Agustusan.

Setelah ketiga bahan diaduk menjadi satu, lalu dimasukan ke dalam kulit telur sesuai ukurannya. Setelah itu, dikukus beberapa saat kemudian telok ukan siap disantap.

Sebenarnya rasa telok ukan ini mirip dengan serkayo telok (srikaya telur).

Bidar

Bidar merupakan singkatan dari biduk lancar, artinya biduk (perahu) yang berjalan lancar (cepat)

Awalnya, ketika masa Kesultanan Palembang Darussalam disebut perahu pancalang. Pancalang sendiri kata dasarnya pancal yang berarti lepas landas, ilang atau menghilang. Pancalang berarti menghilang dengan cepat. Perahu inilah yang diyakini sebagai asal usul bidar.

Di masa Kesultanan Palembang, perahu pancalang digunakan kesutanan untuk mengawasi lalu lintas sungai musi yang memiliki 108 anak sungai. Konon, lomba bidar sudah sejak masa Kesultanan Palembang ini. Masyarakat Palembang lama menyebut lomba bidar dengan sebutan “kenceran”.

Bidar yang panjangnya 10-20 meter dan lebar 1,5 -3 meter ini biasanya dikayuh oleh 8-30 orang, bermuatan sampai 50 orang.

Saat ini, tampilan perahu bidar sedikit berbeda dengan masa Kesultanan Palembang. Ada dua jenis bidar yang dikenal.

Pertama, perahu bidar berprestasi, memiliki panjang 12,70 meter, tinggi 60 cm, dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung, 1 juragan serta 1 tukang timba air. Perahu ini dapat dilihat setiap 17 Juni, bertepatan dengan hari jadi kota Palembang.

Kedua, perahu bidar tradisional. Perahu ini memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm, dan lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air.

Perahu jenis kedua ini dapat disaksikan pada setiap Agustusan, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI dalam puncak acara Festival Musi. Festival Musi terkadang juga diikuti dengan lomba perahu hias, lomba bidar mini dan renang alam. Ribuan penonton menyaksikan lomba tersebut dari kedua sisi sungai dan Jembatan Ampera.

 

TEKS   :  ALAM TRIE PUTRA

EDITOR  : SARONO P SASMITO




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *